BERDIKARI dan Domestic Resource Mobilization

Ternyata sudah lebih dari dua bulan saya tidak menyentuh blog ini. Dan tulisan terakhir saya masih seputar percintaan haha. Tapi tidak apa-apa, urusan cinta juga penting. Tapi kali ini saya ingin bercerita tentang hal lain. Jadi ceritanya beberapa hari kemarin saya disibukkan oleh pembuatan essay untuk sebuah seleksi konferensi, temanya mengenai sustainable development. Meski saya pribadi tidak puas dengan essay tersebut, tapi hikmahnya saya menemukan konsep baru yang saya pikir cukup menarik: Domestic Resource Mobilization (selanjutnya kita singkat DRM aja). Pernah dengar?

Bagaimana dengan BERDIKARI? Saya rasa kita semua pernah mendengar tentang kalimat terkenal bung Karno tersebut, Berdiri Di Atas Kaki Sendiri. Lalu apa hubungannya dengan DRM? Ini yang membuat saya tertarik. Saat saya membaca jurnal mengani DMR ini, pikiran saya secara ototmatis mengarah kepada suatu kesimpulan: ini sangat mirip dengan ide BERDIKARI. Tapi tunggu dulu, saya tidak bermaksud mengatakan si pembuat DMR itu plagiat. Tapi yang menarik adalah, DMR ini dapat dikatakan seperti perumusan ilmiah dari konsep BERDIKARI.

DRM ini, seperti namanya, adalah konsep dimana pembangunan yang dilakukan memanfaatkan sumber (resoure) dari dalam (domestik). Jadi pembangunan yang dilakukan tidak bergantung pada sumber-sumber eksternal seperti Foreign Direct Investment, pemasukan dari hasil ekspor, bantuan dan asisteni teknis dari luar negeri, dan dana pinjaman luar negeri. Sebaliknya, sumber yang digunakan adalah sumber-sumber domestik seperti simpanan rumah tangga, profit perusahaan domestik, pajak, dan pendapatan publik lainnya. 

DRM dianggap dapat menjadi solusi penggunaan dana eksternal yang ternyata sering kali merugikan negara-negara berkembang. Sumber-sumber eksternal gagal melakukan pembangunan yang berkelanjutan karena penggunaan dana tersebut seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan dan juga dengan konteks histori dan geografi dari negara yang menerima sumber tersebut. Misal untuk FDI, dana investasi hanya akan masuk pada sektor-sektor yang menarik bagi investor, sedangkan sebagian besar negara-negara berkembang sebagian besar merupakan negara yang mengandalkan sektor agraris, sektor yang kurang diminati oleh investor. Alhasil akhirnya negara tersebut terpaksa melakukan pembangunan di sektor lain meski sebenarnya kebutuhan utamanya adalah dalam sektor agraris. Contoh lainnya adalah kota-kota yang dibangun dari dana perusahaan minyak. Akhirnya pembangunaan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dari perusahaan minyak tersebut, bukan masyarakat setempat. Contoh tersebut dapat dilihat di Kota Tembagapura Papua. Contoh lainnya adalah dalam pinjaman luar negeri yang seringkali dibarengi dengan syarat-syarat tertentu. Kasus riil nya dapat kita lihat saat Indonesia mendapatkan dana bantuan IMF saat krisis 1998. Saat itu IMF memberikan pinjaman luar negeri dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh Indonesia, syarat-syarat yang dianggap solusi bagi perekonomian Indonesia, meski banyak dari syarat tersebut yang kontroversial dan dianggap tidak sesuai dengan konteks Indonesia. Juga seperti dana-dana pinjaman dari Jepang untuk pembangunan jalan di Jakarta, meski sebetulnya yang dibutuhkan oleh Jakarta adalah pembangunana transportasi massal. Dan kalo kita sedikit suudzon, penambahan jalan akan berakibat pada kenyamanan menggunakan kendaraan pribadi, sehingga akan menaikkan permintaan mobil dan motor, dan saya rasa kita semua tahu dari mana kita membeli kendaraan kita. Pemerintah pun, termasuk pemerintahan yang demokratis sekalipun, akhirnya tidak punya pilihan lain karena pilihan yang tersedia adalah membangun dengan mengikuti berbagai syarat lain atau tidak melakukan pembangunan. Bahkan dalam suatau penelitian dinyatakan bahwa ketergantungan terhadap dana ekternal ini akan memicu korupsi dan penyimpangan hukum.

Oleh karena itu, dengan DRM pembangunan yang dilakukan dapat sesuai dengan kebutuhan dan konteks di negara terkait. Kesesuaian dengan konteks negara tersebut sangat penting karena sebutulnya tidak ada pakem ideal dalam melakuakn pembangunan. Semua negara memiliki ciri khas masing-masing sehingga memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda pula. Dengan DRM Pemerintah dan masyarakat menjadi memiliki kuasa atas pilihan pembangunan yang dilakukan. Selain itu tidak akan ada ketergantungan terhadap keadaan yang terjadi di luar. Dengan kata lain permbangunan yang dilakukan dapat lebih berkelanjutan.

Tapi masalahnya adalah, bukankah sumber domestik yang tersedia tidak mencukupi untuk melakukan pembangunan? Ternyata tidak juga, karena ternyata banyak trade off  antara penggunaan sumber eksternal dan domestik. Misal untuk memicu perdagangan luar negeri dilakuakn pengurangan tarif, lalu rangka mengundang FDI maka dilakukan pengurangan pajak bagi korporasi. Sehingga jika kita ingin mengurangi ketergantungan dari FDI misalkan, maka pajak dapat dinaikkan sehingga pendapatan dari pajak ini dapat menutupi kerugian dari pengurangan FDI namun negara mendapat keuntungan-keuntungan  DRM seperti yang dijelaskan di paragraf di atas.

Itu sedikit penjelasan mengenai DRM , dan saya tidak bermaksud membahasnya secara mendetail. Tapi dari sini dapat kita lihat betapa konsep DRM ini sangat sesuai dengan ide BERDIKARI. Ide BERDIKARI ternyata sangat visioner melampaui zaman. Betapa hebatnya founding fathers kita yang telah mencetuskan ide ini jauh sebelum muncul konsep DRM dalam diskusi ilmiah. Kita seharusnya berbangga bangsa ini didirikan oleh manusia-manusia yang luar biasa. Sudah saatnya kita lebih menghargai lagi warisan pemikiran-pemikiran dari para pendiri bangsa dan dari berbagai kearifan yang ada di Indonesia, jangan hanya silau dengan berbagai konsep-konsep barat semata. Dan yang lebih penting lagi, di umur NKRI yang telah menyentuh angka 68 ini, sudah saatnya Indonesia dapat BEDIKARI, Berdiri Di Atas Kaki Sendiri !

Muhammad Azka Gulsyan

Jumat, 10 Januari 2014

pukul 00.27 WIB

*sebagian besar informasi mengenai DRM diambil dari jurnal karya Roy Culpeper and Aniket Bhushan, 2008.

“Jadi?” tanya kamu merusak diam kita.

“Jadi apa?”

 “Jadi, kamu tidak sedih?” memperjelas pertanyaan sembari menatap ku.

Aku menyenderkan kepalaku ke tangan kiri, dan mengaduk-ngaduk teh tarik ku dengan tangan kanan. “Entahlah. Sebagian besar lamunanku mungkin memang tentang kamu. Tapi aku tidak yakin apakah aku sedih. Lagi pula…” Aku diam sejenak, mencoba mencari kata yang tepat.

“Lagi pula apa?” tanyamu tidak sabar.

“Lagi pula yang akan berpisah hanyalah fisik kita”

“Maksud kamu?”

“Maksud aku, ya hanya fisik kita yang berpisah. Dan selama ini hubungan kita tidak begantung dengan kontak fisik, kan? Maksudku, kita memang sembari awal jarang bertemu secara fisik, apalagi bersentuhan. Jadi  aku berfikir seharusnya berpisah secara fisik bukanlah suatu masalah besar.”

“Teori yang bagus, kamu memang pandai berteori.” Jawab kamu, sambil tersenyum tipis dan memainkan cangkir kopi hitam mu.

“Tentu saja, karena itu aku mau menjadi dosen hehe” Kataku sembari tertawa ringan, yang juga diikuti oleh kamu.

“Kalau begitu aku harus pandai mengungkap fakta haha.”

“Jadi, apa fakta yang akan kamu ungkap?” tanyaku menggoda.

“Fakta bahwa, nanti kamu akan menangis?”

“Haha lupakan saja. Aku tidak akan menangis. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali menangis. Tapi bukankah itu sudah jadi fakta dirimu?”

“Sial” katamu, tersenyum sesaat, lalu kembali memainkan cangkir kopi hitam mu.

“Tapi menangis itu baik.”

Kamu hanya tersenyum tanpa menatap. Lalu kembali diam.

“Jadi..”

“Apa?”

“Sampai kapan kita membohongi diri kita?”

“Maksud kamu?”

“Aku rasa teori mu salah.”

Aku kembali diam. “Mungkin. Aku rasa aku terlalu banyak menggunakan asumsi yang kurang kuat.”

“Bukan itu maksudku.” Ujarmu, menandakan gagalnya upaya pembelokan yang aku lakukan.

“Baiklah, aku mengerti. Soal itu aku hanya bisa bilang,

bersabarlah. Nanti akan ada waktunya.”

 

Lalu kita kembali menikmati diam. Entah mengapa langit Jakarta malam ini terasa sejuk.

Soal Melamun

Entah kenapa hari ini kepala saya terasa sangat berat, otot-otot terasa kejang, dan tubuh terasa akan demam namun tidak kunjung demam. Meriang? Mungkin itu kata yang paling tepat, meski saya tidak tahu juga apa yang sedang terjadi. Diperparah dengan kondisi perut yang tidak menentu. Masalah perut ini diawali oleh insiden kemarin dini hari, dimana tiba-tiba saya terbangun dengan kondisi sangat mual, hingga akhirnya mengeluarkan seluruh gulai otak yang saya makan malam sebelumnya. Mungkin saya tertular ayah saya, tapi sakitnya tidak disertai permasalahan pencernaan. Namun setidaknya, kemarin saya mendapatkan perhatian dengan porsi cukup besar dari bunda saya. Perhatian, sesuatu yang sering saya harapkan namun selalu terhalang gengsi untuk memintanya.

Kondisi ini membuat saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk membaca dan melamun, karena adalah ini dua aktivitas paling minim energi. Melamun, bengong, merenung, atau berimajinasi, atau entah apa padanan kata yang tepat . Kegiatan aneh ini entah mengapa sering saya lakukan. Tapi saat melamun inilah ide-ide brilian sering muncul. Saat kecil dulu sebelum saya mengenal nikmatnya membaca, waktu senggang saya hampir selalu saya gunakan untuk melamun sendiri, mengimajinasikan berbagai hal, dan disertai oleh gerakan tangan dan bunyi-bunyian. Sekarang salah satu kebiasaan saya di rumah adalah duduk bangku teras, membaca, diselingi oleh lamunan, tentu tidak ada lagi gerakan tangan dan bunyi-bunyi khayalan bocah. Dan sepertinya kebiasaan ini juga dilakukan oleh ayah saya. Bedanya, dia ditemani oleh hangatnya asap rokok. Terkadang saya berharap ayah saya cepat menyelesaikan ‘aktivitas teras’ nya agar saya bisa melakukan kebiasaan saya. Karena sangat tidak nyaman melakukan kebiasaan itu seecara bersamaan. Dan sepertinya kami berdua sepaham soal itu.

Tapi anehnya, entah mengapa, beberapa teman-teman saya kini sering mengaitkan kegiatan melamun saya dengan rasa sedih. Sembari mengaitkannya dengan peristiwa perpisahan. Apa melamun selalu berkorelasi dengan rasa sedih? Saya tidak tahu dari mana logika ini muncul, toh melamun dapat dilakukan dalam kondisi hati apa saja. Saya rasa mereka hanya terlalu banyak nonton drama korea.

Obrolan tentang meragukan arus

“Jadi, kau ingin melakukan perubahan?,“ tanyamu sambil mencari-cari korek api di saku.

“iya,” jawabku singkat, sambil mengamati kau yang masih mencari-cari korek sambil memaki karena tidak juga ditemukan.

“sebentar, aku beli korek dulu,” lalu pergi degan emosi ke warung samping tempat kami minum. Kulihat dia memang aneh, pria jenius dengan emosi yang sangat labil. Tapi entah mengapa, di saat orang lain sering dibuat jengkel karena emosinya yang sering mendadak meledak, aku sangat nyaman berkawan dengannya.    

“jadi..”

“Jadi aku akan melakukan perubahan.”

“ah, iya benar, perubahan. Bagaiamana caranya?” tanya kau, seperti mengetes niat ku.

“hmm.. begini. Aku akan meragukan segala tradisi yang kini ada, lalu memikirkannya kembali sacara jernih, tanpa pengaruh pemikiran-pemikiran lama yang  mendarah daging dalam tradisi. Lalu aku akan memikirkan apa yang sebenarnya diperlukan dalam organisasi kita, dan menganggapnya benar bila memang benar-benar telah jelas dan bernalar. Dengan begitu kita akan mendapatkan ‘kebenaran’ mengenai apa yang sebenarnya diperlukan.” jawabku, berusaha menjawab sejelas mungkin.

“hmm, menarik.” Kau diam sejenak, menghisap rokok di tangan kanan mu tanpa ekspresi. Aku menunggu lanjutan kata dari mu. “Jadi kau mengadaptasi metode yang digunakan oleh Descartes dalam mencari kebenaran.” Katamu.

“Bisa dibilang begitu, meski aku tidak sepenuhnya yakin. Setidaknya buku kecil Descartes yang kau berikan menjadi salah satu inspirasiku dalam merancang ini. Aku tertarik dengan metode berfikirnya”

“Jadi, kau akan meragukan segala tradisi yang ada?”

“Yap”

“Kau sudah sangat yakin dengan sikapmu itu?”

“Apa maskdumu?”

“Maksudku, apa kau yakin segala tradisi dan ide yang telah ada di organisasi kita perlu untuk diragukan?”

“Setidaknya itu yang ku dapat dari buku Descartes,” aku berusaha membela diri.

“Persetan dengan Descartes. Aku tanya pendapatmu!”. Suara mu sedikit meninggi, kau mulai menunjukkan kelabilan emosimu.

“hmm..” aku berfikir sejenak. Memasang ekspresi berfikir agar menunjukkan bahwa aku berusaha menjawab dengan sungguh-sungguh, dan sepertinya upayaku berhasil  menurunkan kembali tingkat emosi mu. “hmm, yah sepertinya aku akan melakukan hal itu. Karena bila tidak, kita tidak akan pernah melakukan perubahan yang sejati. Kita hanya menjadi pengikut arus tradisi saja, yang kebenarannya bahkan patut dipertanyakan. Maksudku, bukan berarti tradisi yang ada semuanya salah, dan aku percaya saat tradisi itu diciptakan, pasti terdapat suatu tujuan baiknya. Namun seiring waktu banyak tradisi tersebut yang kehilangan esensinya dan menjadi rutinitas belaka.”

“Tapi apa kau tahu konsekensi dari tindakan mu?” tanya mu serius sambil menyalakan puntung rokok yang kedua. Aku meminum habis susu hangat ku.

“Memang apa? Aku belum menemukan konsekuensi yang begitu perlu diberikan perhatian.”

“Apa kau tak sadar? Dengan meragukan dan berfikir ulang secara jernih, kau akan merobohkan bangunan tradisi yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun. Memang benar, banyak dari bangunan itu yang telah kaprah penggunaannya, atau hasil yang terbentuk tidak sesuai dengan desain awal. Tapi apa benar perlu dirobohkan? Dan pertanyaan mendasar yang paling penting sebelum kau benar-benar melakukan niatanmu, apakah kau sanggup membangunnya kembali setelah kau robohkan?

Aku tertegun sejenak. Aku tidak pernah berfikir sampai sana. “Aku tidak tahu,” jawabku jujur.

“Pikirkanlah. Aku suka dengan semangatmu, tapi ingatlah pada akhirnya kau akan berbentur dengan realita. Begini, yang perlu dilakukan adalah kau keluar dari pusaran atau arus tradisi itu. Lalu dari luar sana, nilailah dengan jernih. Maka kau akan tahu mana yang benar mana yang salah. Tapi ingat, bagaimana pun kau hidup dalam pusaran terseut. Kau akan kembali ke realita, ke dalam pusaran. Saat kau akan membenarkan berbagai kesalahan yang ada, maka pusaran atau arus tersebut tidak akan sertamerta mengikuti mu. Hadangan akan menimpa dirimu. Sekarang, tinggal masalah seberapa kuat kau menanggung berbagai hadangan tersebut. ”

“Seperti Nabi Muhammad SAW yang menyendiri di gua Hira, keluar dari pusaran kehidupan Mekkah dan menemukan kebenaran. Lantas saat beliau ingin meluruskan pusaran kehidupan yang salah itu, jutaan hadangan menimpanya, bahkan nyawanya terancam.” Ucapku dengan spontan.

“Entahlah, aku tidak tahu apa-apa tentang nabi mu. Tapi ilustrasimu cocok.” Jawabmu. Menghisap rokok mu, dan melanjutkan. “Oh, dan satu lagi, aku tidak pernah memaksamu untuk melawan semua arus, dan itu sangat tidak perlu. Saat kau keluar arus untuk berfikir jernih, kau akan menemukan bahwa akan ada sisi benar dari arus tersebut, atau bahkan bisa jadi kau selama ini sudah berada pada arus yang tepat sehingga kau tinggal mengikutinya saja.”

“Menarik. Dari mana kau mendapatkan pemikiran itu?”

“Entahlah, aku sedang mempelajari pemikiran Nietzche, baru sedikit memang. Tapi sejauh ini, itu pelajaran yang bisa kupetik.” Jawabmu sambil meminum kopi hitam di depanmu, atau mungkin lebih tepat disebut jagung hitam?

“Boleh aku pinjam bukunya?”

“Tidak! Aku masih membaca. Dan setelah buku teori sosial ku kau hilangkan, sekarnag aku akan berfikir dua kali untuk meinjamkan buku pada mu,” sembari melempar puntung rokokmu ke selokan.

“haha baik-baik, nanti buku itu akan aku ganti,” jawabku enteng.

“ya terserah kau,” jawabmu sambil menyalakan puntung rokok ketiga. “ngomong-ngomong, bagaimana kabar teman mu itu?”

“Oh, jadi sekarang kita akan membicarakan wanita? Hehe. Bagaimana pendapat Niezche tentang ini?” tanyaku sambil tersenyum mengejek.

“Berisik kau!” jawabmu dengan sedikit membentak. Kau menjadi salah tingkah dan kami pun tertawa. Dan entah mengapa, kau menjadi begitu bodoh bila sudah berbicara tentang topik ini. Jenius yang aneh.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

Soal ‘Pulang’

Akhirnya aku tidak jadi ‘pulang’ ke Bandung (penggunaan kata ‘pulang’ sekarang menjadi begitu rancu, apakah saat aku pergi ke Bogor atau pergi Bandung). Ibuku berhasil membujuk aku untuk menjaga ayah yang tengah demam, meski yang dimaksud ‘menjaga’ pun aku tidak terlalu mengerti, karena toh ayah terlihat tidak perlu dijaga dan akhirnya kami sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan ibuku  semenjak pukul tujuh pagi telah berangkat untuk mencari data entah apa di Jakarta, kegiatan yang membuat aku sempat memutuskan untuk pulang subuh saja. Meski setidaknya masih sempat membuatkan segelas teh tarik untuk ku. Tapi toh akhirnya di “rumah” ini aku menjalani aktivitas solo saja: main piano, baca buku, menulis, nonton tv, dan ngelamun (atau bahasa puitisnya: merenung hehe). Apa bedanya dengan di kostan? Mungkin tv.

Rumah KPP-IPB Baranang Siang IV B-12 ini memang makin hari semakin kehilangan cahayanya. Mungkin karena semua anak tidak lagi tinggal di sana, sudah tersebar ke Dramaga, Bandung, Depok, dan Sukabumi. Bukankah anak itu sumber cahaya keluarga? Wajar saja rumah ini semakin redup.  Begitu juga dengan komplek ini, kehilangan kehidupannya. Padahal dulu hampir setiap sore kami bermain bola di atas jalanan aspal komplek, dengan kaki telanjang, bola plastik dan gawang dari sendal jepit. Nyebur ke got atau memanjat pagar orang untuk mengambil bola sudah menjadi kebiasaan. Atau pada akhir pekan bermain di lapangan PLN,sebuah lapangan bola yang berjarak sekitar 100m dari komplek melalui jalan tembus belakang pura yang penuh dengan anjing. Lalu terkadang ngadu  dengan “anak kampung” (kata yang belakangan saya sadari begitu diskriminatif), yaitu anak-anak yang tinggal di permukiman padat seberang komplek. Tapi kebiasaan itu mulai redup semenjak berkembang bisnis lapangan futsal  dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak dari permukiman seberang itu kini bermain bola, karena mereka tidak mampu membayar lapangan futsal yang begitu mahal ini). Dan toh lapangan PLN itu pun sekarang telah disulap menjadi perumahan.  Dan kalau pun masih ada, seluruh anak komplek blok-B ini telah hilang semua dengan kesibukan masing-masing.

Jadi apa lagi yang tersisa dari rumah ini? Bahkan sistem kamar pun telah dirombak. Tidak ada lagi kamar aku dan Abyan di sini. Ruangan itu telah menjadi ruangan multifungsi dengan tumpukan barang-barang dan dokumen-dokumen. Daun sirih yang merambat lebat di halaman belakang pun telah dibabat habis entah karena apa, dan sekarang hanya tembok gersang yang bisa dilihat di belakang. Oh mungkin pohon mangga di halaman. Tapi lihatlah, dia pun tengah sekarat. Seluruh batangnya kini dirambat oleh sejenis parasit, dan daunnya tidak lagi selebat dulu, yang sering kali menghalangi “lapangan bulutangkis” kami. Ah aku tahu, mungkin satu-satunya yang masih tersisa, yang masih menjadi cahaya dari rumah ini adalah piano cokelat yang suaranya begitu jelita ini. Betapa asyiknya bermain dengannya.  Mungkin cuma dia penghibur satu-satunya saat sendiri di rumah.

….

Sepertinya kata ‘pulang’ kini lebih tepat digunakan untuk menyebut perjalanan ke Kota Bandung.

Di tepi jalan tol

Aku duduk di tepi jalan tol

Menyaksikan cahaya

Datang, benderang

Sejenak dekat

Sejenak,

Lalu pergi

Menyisakan merah

Hingga akhirnya menghilang

Aku berbeda

Kamu bilang

Aku tidak tahu

Tanpa Kata

Hitam mata bertemu

Tubuh kita berhimpit

Hingga hati merindu, tapi

Tak ada kata-kata

 

Bukankah cinta tak diukur dengan kata?

Kamu bilang

Aku tidak tahu

Pagi Aneh

Aku terbangun. Entah mengapa kasur yang ku tiduri terasa jauh lebih nyaman. “Oh benar, ini di rumah, bukan lagi karpet himpunan”.

Lalu aku berdiri, keluar kamar, dan disambut oleh senyuman dan ciuman bunda ku. Aku duduk di sofa. Mangambil ponsel untuk mencari beberapa informasi. Informasi yang Lalu berdiri. 

Menuju kursi piano. Membuka penutup, dan mencoba menekan tuts putih hitam ini. “Mengapa terasa begitu berbeda?”. Tutsnya terasa dangkal dan berat.  Mungkin karena aku telah menjadi terbiasa dengan tuts keyboard di kostan. Sial, padahal jauh lebih menyenangkan dengan piano.

Tiba-tiba ayah menyuruh ku berhenti sebentar, karena mau berbicara hal penting dengan kakak ku. Suara piano memang akan terdengar seisi rumah bila dimainkan.

Mereka selesai bicara. Aku mencoba melanjutkan. Diam. Lalu aku memikirkan nada-nada yang tepat. Ide tidak juga muncul. “Bodoh! Harusnya dalam urusan begini jangan kau pikirkan, tapi rasakan! Gunakan perasaan kau!”.

Benar. Aku coba keluarkan segala perasaan. Entah apa perasaan yang keluar ini. Senang? Sedih? Bingung? Bodoh? Bahagia? Cemas? Tenang? Yakin? Ah, sial, tidak jelas. Aku jadi tidak bisa menyalurkan perasaan ku lewat piano. Sial. Padahal ini adalah kegiatan yang paling aku rindukan setiap pulang.

Lalu aku mencoba memikirkan nada dan harmoni yang aku ingat. “Hey bodoh! sudah ku bilang percuma menggunakan pikiran keras kau untuk bermain piano”. Diam kau. Aku mulai menekan tuts-tuts yang keras dan dangkal. Kau dengar? Kau dengar nada dan harmoni itu? “Yah, aku mendengar nada dan harmoni, tapi dalam kehampaan”. Berisik kau. Siapa peduli hampa atau tidak? Yang penting aku dapat mengeluarkan lagu yang indah. “Kamu peduli”.

Bodoh. “Memang hidup penuh dengan kebodohan, bukan kah begitu?”

Kau memang sungguh bodoh.

“Baiklah, tidak apa bila ternyata aku bodoh, anak pintar” Dan kamu tersenyum. SIal. 

mimilih percaya

“Pada akhirnya, kita percaya akan sesuatu karena kita memilih untuk percaya.

Bukan karena keberadaan beribu bukti “

Kekelliruan Mindset Mereka

Aku memainkan sedotan jus tomat ku, minuman yang saat aku kecil dulu sering dibuatkan oleh bunda ku, sembari mempertimbangkan untuk mengatakan sesuatu. Sedangkan tatapanmu entah kemana. Cangkir kopi itu kamu biarkarkan begitu saja.

“Aku pikir mindset mereka salah besar”. Yang dimaksud mereka adalah para pemegang kekuasaan di pemerintahan terpusat organisasi kami.

“Oh iya? Apanya yang salah?”. Kamu menatap ku.

“Ya begitulah”, sembari membuang tatapan.

Kamu terlihat kesal dengan jawabanku yang menggantung.

Segera aku menambahkan. “Begini. Mereka kesalahan terbesar mereka, dan ini juga yang terus dilakuakan semenjak pendahulu-pendahulunya, adalah mindset bahwa mereka memiliki power yang besar.”

“Maksudnya? Bukankah mereka memerintah di tingkat pusat dan bukankah berarti mereka pemilik power terbesar?”

Aku meminum jus tomat ku. “Salah besar. Sistem yang kita gunakan di organisasi kita memberikan kekuasaan terbesar kepada pemerintah wilayah. Lihatlah, pemerintah wilayah dapat melakukan apa saja tanpa peduli dengan apa kata pemerintah pusat. Pemerintah wilayah dapat mengabaikan begitu saja berbagai himbauan dari pusat. Dan lihatlah, pusat hanya dapat menghimbau, karena dalam sistem ini mereka tidak diberikan power yang lebih dari itu. Tapi kebalikannya, pemerintah pusat tidak dapat melakukan sesuatu kecuali dengan persetujuan dari wilayah”

Kamu menatap aku.

 “Dan, setiap wilayah memiliki ‘konstitusi’ nya sendiri, yang mereka gunakan sebagai dasar atas berbagai aktivitas mereka”

“Mirip seperti di Amerika, setiap negara bagian memiliki konstitusi”, katamu.

“Iya. Sistem kita memang sangat federal. Atau gampangnya, kekuasaan di organisasi kita sangat-sangat terdesentralisasi. Namun masalah muncul saat mindset orang-orang terpusat masih sangat sentralistik. Lalu mereka mengadakan kegiatan-kegiatan yang sangat sentralistik pula. Seakan mereka punya cukup power, seakan mereka punya banyak SDM. Saat mereka tidak mendapatkan dukungan dari wilayah, mereka kesulitan. Dan mindset seperti ini membuat mereka selalu dalam kesulitan. Pada akhirnya, mereka hanya mengutuk sistem yang mereka anggap sangat menyulitkan”

“Tapi bukankah memang sistemnya sangat menyulitkan?”

“Itu benar bila mindset kita masih sentralistik. Tapi tren yang terjadi saat ini adalah penyebaran kekuasaan ke daerah. Mengapa? Karena secara empiris terlihat bahwa penumpukan kekuasaan di pusat membawa dampak yang sangat buruk. Karena pemerintah wilayah lah yang paling mengerti apa yang dibutuhkan oleh warga di wilayahnya. Namun orang-orang di pusat tentu tidak semudah itu mau melepaskan kekuasaan yang pernah mereka miliki dahulu. Hingga itu tertanam dalam di dasar otak mereka: bahwa mereka adalah pemilik power terbesar. Jadi mereka berfikir akan lebih mudah bila mereka semua yang mengatur. Padahal dengan kekuasaan diberikan ke wilayah, itu akan sangat memudahkan bagi pusat”

“Kalau begitu buat apa ada pemerintahan terpusat?”

“Hubungan dengan pihak luar atau urusan eksternal lain, anggaran, pengsinergisan, kerja sama antar wilayah, dan masih banyak hal lainnya. Intinya, pemerintah terpusat ada untuk menjalankan peran yang tidak dapat dilakukan sendiri oleh wilayah, atau yang akan menimbulkan konflik antar wilayah jika tidak ada yang mengatur, disamping sebagai simbol pemersatu. Jadi seharusnya mereka jangan mengambil peran yang sudah dipegang oleh wilayah. Buat apa pemerintah terpusat membuat suatu program sosial kemasyarakatan bila itu sudah dilakukan oleh wilayah?”

“Tapi bagaimana jika pusat sudah menjalankan perannya dengan benar, namun para pemerintah wilayahnya terus ngeyel? Sedangkan pusat hanya dapat menghimbau saja. Bukankah berarti sistemnya memang tidak efektif?”

Aku meminum lagi jus tomat ku, kali ini hingga habis. Aku jadi sedikit gelisah karena tidak ada lagi yang dapat aku permainkan. Berfikir.

“Di situ mungkin letak ketidakidealan sistem kita. Kita tidak memiliki sistem kontrol atau penegakan hukum yang jelas. Tapi mau sampai kapan kita hanya mengutuk sistem? Tidak akan ada perubahan, kecuali untuk jangka panjang, bahkan sangat panjang. Bila mau berfikir lebih kreatif, kita bisa cari jalan keluar tanpa perlu mengutuk untuk mengubah sistem. Misal dengan pendekatan insentif-disinsentif. Buatlah program-program yang membuat wilayah mendapat insentif bila mereka ikut serta, dan disinsentif jika mereka ngeyel. Dengan begitu tanpa paksaan, mereka akan berpartisipasi dengan sendirinya. Tapi pemikiran-pemikiran semacam ini akan muncul hanya jika kita mau menghilangkan mindset sentralistik kita, mindset bahwa pemerintah terpusat adalah pememilik power terbesar.”

“ooh.” Jawab kamu singkat. Sorot matamu mulai menunjukkan ketidaktertarikan akan pembahasan ini.

Lalu aku berfikir, berusaha mencari topik lain yang kira-kira menarik bagi kamu untuk dibahas.

“Kamu kebanyakan mikir.” Katamu, sambil tersenyum. Seakan kamu tahu aku sedang berpikir keras mencari topik lain. Tiba-tiba aku tidak bisa berpikir. Tapi kamu terus tersenyum dan menatapku. Dan aku memutuskan berhenti berpikir. Membalas senyuman dan tatapanmu.

Sejenak kita berdua berkomunikasi tanpa kata.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.