Membangun RTH dengan Masalah

Pembangunan RTH yang semakin gencar dilakukan oleh pemerintah daerah, khususnya Kota Bandung tenyata menimbulkan masalah baru. Penggusuran padagang di kawasan Taman Sari merupakan salah satu masalah yang patut kita amati. Penggusuran itu dikarenakan kawasan Taman Sari tersebut ternyata adalah kawasan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH), dan para pedagang tersebut sesungguhnya tidak memilki izin untuk berdagang di sana. Tujuan pemerintah memang baik, namun yang jadi masalah adalah mengapa selama ini mereka dibiarkan berdagang kalau memang tanah itu untuk RTH? Bahkan mereka selama ini harus bayar “uang sewa” ke oknum pemerintah?

Jadi ternyata permasalahan ini dimulai dari pembangunan Jalan Layang Pasopati. Pedagang yg tadi nya berjualan di sana direlokasi ke beberapa tempat, salah satu nya adalah di kawasan Taman Sari. Di sini muncul masalah awal, kalau memang kawasan Taman Sari ingin dijadikan RTH sejak awal, mengapa mereka malah direlokasi ke sana?

Masalah selanjutnya adalah, setelah relokasi, para pedagang tersebut malah dimintai uang oleh oknum pemerintah dengan iming-iming diizinkan berdagang di sana untuk seterusnya. Masalah pun muncul lagi, mengapa mereka terus dibiarkan diperas oleh oknum pemerintah?

Puncaknya adalah, setelah sekian kali mereka diperas oleh oknum tersebut, ternyata akhirnya mereka digusur jua. Inilah yang membuat penggusuran tersebut menjadi masalah. Sekali lagi, tujuannya memang baik yaitu ingin membangun RTH, dan kita sebagai mahasiswa harus objektif melihat bahwa penggusurn itu tidak selamanya buruk. Namun hal ini menjadi masalah karena terjadi pendzaliman terhadap para pedagang di sana berupa pemerasan oleh oknum dengan iming-iming palsu. Hal lain yang harus kita perhatikan adalah bahwa kita harus mengawal agar kawasan tersebut benar-benar dijadikan RTH. Jangan sampai kawasan tersebut malah menjadi kawasan bisnis bagi konco-konco nya penguasa.

 

Tidak harus dengan menggusur

Dalam sebuah kajian RTH yang diadakan KM ITB dan mengundang Haru Suhandaru, anggota DPRD Kota Bandung serta Ridwan Kamil, seorang arsitek dan penggagas gerakan Indonesia Menanam, dijelaskan bahwa saat ini RTH di Kota Bandung baru 10,32% sehingga perlu dibikin RTH-RTH baru agar mencapai angka ideal 30%*. Kasus Taman Sari merupakan imbas dari membangunan RTH tersebut. Padahal menurut Ridwan Kamil, sebenarnya masih banyak lahan menganggur di Kota Bandung yang dibiarkan begitu saja. Selain itu sebenarnya banyak inovasi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala kekurangan lahan ini, salah satunya dengan membangun RTH di atas bangunan.

Sehingga seharusnya penggusuran dapat menjadi pilihan terakhir pemerintah kota karena masih banyak lahan yang terbengkalai dan masih banyak inovasi yang bisa dilakukan. Bilapun memang perlu, seharusnya proses penggusuran tidak dilakukan dengan mendzalimi para pedagang dengan berbagai pemerasan disertai iming-iming palsu. RTH pada dasarnya dibangun untuk memperbaiki kualitas hidup warga kota, lantas apa pantas prosesnya dilakukan dengan mempesulit kehidupan sebagian warganya?

 

*dalam UU no.26 tahun 2007, setiap Kab/Kota diwajibkan memiliki RTH sebesar 30% dari luas wilayah

About these ads

One thought on “Membangun RTH dengan Masalah

  1. Mukhlis mengatakan:

    Senang membaca tulisanmu Azka, selamat ys.

    Pelaksanaan UU 26/2007 jadi masalah di mana2 ya, antara penegakkan aturan oleh Aparat dengan realitas pertumbuhan properti dan pemukiman yg tak terkendali.

    Data serupa terjadi di Jakarta, capaian RTH sekitar 10% jauh dibawah amanat UU tsb pd tahun 2010. Slogan dimana2 tak berdampak pd tumbuhnya properti dan lahan2 terlantar yg tak tergarap yg mestinya jd solusi melalui upaya penghijauan stakeholders, tak tekecuali melibatkan tanggungjawab pebisnis dan masyarakat.

    Salam buat Ayah dan Bunda di Bogor ya, bangga dengan prestasi Azka, Uni Ayi, dan adik2.. Salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: