Pangan Indonesia: Kondisi yang tidak seindah potensi

Tidak dapat dipungkiri, pengembangan industri pangan di Indonesia sangat potensial. Menurut World Bank (2009), Indonesia memiliki lahan optimal (untuk ditanami) seluas 83.610.600 hektar. Bukan rahasia lagi bahwa tanah-tanah tersebut  sangat subur, ditambah dengan sinar matahari tropis yang sangat pas untuk pertanian. Para petani bahkan bisa panen hingga tiga kali dalam setahun. Begitupun dengan kekayaan hasil lautnya. Delapan belas persen dari luas total terumbu karang dunia terdapat di Indonesia. Ditambah 65% dari luas segitiga karang dunia (coral triangle) yang merupakan pusat keanekargaman hayati berada di wilayah Indonesia. Seharusnya potensi tersebut dapat dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan menjadi kekuatan ekonomi kita.

Tetapi sayangnya potensi tersebut tidak sejalan dengan kondisi yang ada saat ini. Selama Januari-Juni 2011 Indonesia harus mengimpor berbagai komoditas seperti beras, jagung, kedelai, biji gandum dan Meslin, tepung terigu, gula pasir, gula tebu, daging sejenis lembu, mentega, minyak goreng, susu, telur unggas, kelapa, kelapa sawit, lada, kopi, cengkeh, kakao,cabe kering, tembakau dan bawang merah dengan total volume hinga 11,33 juta ton.  BPS mencatat nilai impor nya mencapai Rp 45 triliun. Hal tersebut akan semakin parah jika gagasan impor ikan dilaksanakan. Lantas kemana hasil dari kekayaan alam negeri ini?

Tidak berhenti disitu, kesejahteraan petani pun sangat memprihatinkan. Disaat bebagai perusahaan raksasa meguasai berjuta hektar lahan, jumlah petani gurem (petani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 hektar) malah bertambah. Sensus pertanian memperliatkan bahwa pada tahun 2003 saja, jumlahnya mencapai 14,029 juta rumah tangga atau 56,4 persen dari total 24,869 juta rumah tangga petani. Padahal masih banyak tanah terlantar di negeri ini. Menurut data BPN hingga oktober 2011, sebanyak 850.00 hektar lahan terlantar. Nasib nelayan pun tidak jauh bebeda dengan para petani tersebut. Padahal petani dan nelayan merupakan subjek penting dalam pembangunan industri pangan.

Namun pemerintah seakan tidak peduli dengan kesejahteraan petani dan nelayan. Pemerintah malah merencanakan RUU Pangan yang bukan nya memihak kepada petani, tetapi malah memberikan kesempatan kepada korporasi untuk menguasai pangan, meski isi nya masih diperdebatkan. Pemerintah juga membiarkan kedaulatan pangan tergerus dengan terus mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Boro-boro meningkatkan produksi, luas lahan pertanian malah terkonversi seluas 65.000 hektar pertahun (data BPS).

Mengapa hal tersebut sampai terjadi? Pengajar Pembangunan Wilayah Pedesan dan Manajemen Bisnis IPB, Prof Dr Ir Bomer Pasaribu, secara kritis menyebut kelemahan mendasar dalam penyelenggaraan negara adalah lemahnya kebijakan publik berupa legislasi dan regulasi yang holistik dan sistemik. Karena kebijakan publik holistik lemah, akibatnya manajemen publik dan turunannya dalam bentuk programjuga tidak holistic alias berjalan sendiri-sendiri. “Untuk menyediakan pupuk, misalnya, gas nya ada di Kementrian ESDM, industrinya di Kementrian Perindustrian, pabrik pupuk sebagai badan usaha di bawah kementrian BUMN, subsidinya di Kementrian Keuangan, dan Kementrian Pertanian hanya mengurus petani sebagai konsumen pupuk” kata Bomer dalam Kompas (2/12 11). Wajar saja keadaan industri pangan negeri ini tidak kunjung membaik.

Berbagai masalah tersebut harus segera diatasi karena pangan adalah komoditas sangat penting dalam keberlangsungan negara.Indonesiaharus segera keluar dari jeratan impor pangan dan mulai untuk berorientasi impor. Karena disaat kelangkaan pangan mulai mendera dunia di masa yang akan, negara yang memiliki kemapuan ekspor pangan yang besar akan memiliki posisi yang kuat di dunia. Indonesia dengan potensi produksi pangan yang luar biasa sesungguhnya mampu menjadi negara “raksasa pangan” yang mampu, tidak hanya memberi makan rakyatnya, tetapi juga memberi makan dunia. Namun akankah kita menjadi negara seperti itu? Atau selamanya kita bergantung pada impor?

 

 

Muhmmad Azka Gulsyan

Sappk ITB’11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s