Baca Tulis

Sabtu, 14 April 2012

Membaca tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer membuat saya untuk ingin mulai menulis lagi. Tokoh Minke dalam novel terseut yang memiliki kemampuan menulis yang luarbiasa, yang membuat namanya membesar, menjadi sumber rezeki, dan membuat seluruh hidupnya serta kejadian-kejadian penting di sekitarnya terekam dengan rinci di dalam lembaran kertas dan cairan tinta. Ditambah cerita dari seorang penting di ITB yang mengatakan bahwa tokoh seperti Nurcholis Madjid tidak pernah menghabiskan harinya tanpa menulis. Begitupun berbagai tokoh besar lainnya, hampir semuanya menulis, baik tentang kehidupannya ataupun tentang pemikirannya. Tan Malaka lewat bukunya yang luar biasa “Naar de Republiek Indonesia”, yang saat ini sedang saya baca, mampu menyihir berbagai tokoh perjuangan saat itu, termasuk Soekarno, untuk membangun sebuah Republik baru yang sekarang dapat kita nikmati hari ini, meski daat ini masih jauh dari yang dicita-citakan.

Kekuatan sebuah tulisan memang luar biasa.

Saya pun memutuskan untuk mulai menulis lagi. Lantas muncul lah pertanyaan di otak ini. Bila memang mau setiap hari menulis, lalu apa yang akan ditulis? Apakah setiap hari dalam hidup saya ini akan ada kejadian-kejadian luar biasa yang pantas untuk dijadikan sebuah tulisan? Entahlah. Tapi saya pernah memcaba sebuah kalimat dari blog seorang penting di kampus ITB: Tulisan menunjukkan karakter, menulis membangun karakter. Yah, setidaknya saya mencoba membangun karakter. Meski tidak tahu apa yang akan saya tulis. Mungkin bila tiap hari tidak memungkinkan, tiap minggu juga boleh.

Tapi membahas soal karakter, seperti apa karakter yang saya inginkan? Entahlah. Yang pasti karakter yang paling sempurna adalah karakter seorang Muhammad SAW. Apa saya mampu mendekati karakter beliau? Sepertinya masih sangat sangat sangat sangat jauh. Atau mungkin memang mustahil seorang manusia biasa dengan beribu kekurangan seperti saya dapat mendekati karakter menusia mulia itu.

Kembali soal menulis.

Tapi untuk dapat menulis dengan baik, saya rasa kita harus banyak membca  terlebih dahulu. Mengapa? Menulis adalah menuang apa yang akan ada dalam otak kita, mungkin juga hati, ke dalam bentuk tulisan. Bila tidak ada input yang memadai ke dalam otak dan hati, lalu apa yang akan kita tuangkan dalam tulisan? Pada dasarnya input ini berasal dari pengalaman kita. Dan tanpa membaca pun tentu kita sudah mendapat berbagai pengalaman hidup. Tapi seberapa banyak pengalaman yang bisa kita dapat dari hidup yang singkat ini?

Memaca adalah cara yang paling efektif untuk mengetahui dan merasakan pengalaman yang didapatkan orang lain tanpa kita perlu mengalaminya secara langsung. Bukankah lebih efektif dengan menonton sebuah film? Tapi cobalah baca sebuah novel yang sudah difilmkan,lalu tontonlah filmnya. Saya rasa akan banyak yang kecewa dengan film tersebut. Karena memang kapasitas sebuah film tidak mampu menampung pengalaman sebanyak dalam buku.

…..

Saya bingung mengapa budaya membaca tidak juga tumbuh di Indonesia. Mungkin memang tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin saya pun dapat menyukai membaca karena dulu setiap bulan saya dengan adik kakak saya selalu diajak oleh ayah kami ke toko buku dan kami diperbolehkan membeli sebanyak apapun, yah sebanyak apapun buku asalkan dibaca. Bahkan beberapa kali membacapai angka 1 juta!

Pada awalnya kami (saya dan adik saya [laki2])hanya membeli komik-komik semacam Doraemon, One Piece, Naruto DeathNote. Koleksi kami pun sangat lengkap. Kakak saya (perempuan) membeli komik-komik wanita yang dipenuhi percintaan yang saya tidak mengerti dimana letak serunya, namun yang koleksinya jauh lebih banyak dari koleksi komik saya ditambah adik saya. Sampai sekarang pun saya masih mengikuti One Piece, untuk yang lain sudah tidak sempat lagi.

Tapi berawal dari komik, lama-kelamaan muncul keinginan untuk membca hal lain yang lebih berisi. Saya mulai membeli buku-buku pengetahuan tentang planet, mesir kuno dll yang dipenuhi gambar-gambar menarik. Lalu berlanjut denga novel-novel semacam Da Vinci Code. Lalu mulailah saya membaca buku2 sejarah, politik dan lain sebagainya. Dan hal ini terus berkembang hingga akhirnya kini membaca buku yang kata orang ‘berat’ bukanlah mejadi masalah. Justru menyenangkan.

Namun bagaimana dengan orang yang sejak kecil tidak dibiasakan membaca? Apakah ini dapat menjadi alasan untuk tidak menyukai membaca? Saya tidak bisa berbicara banyak tentang ini, karena saya menyukai membaca karena didikan orang tua. Tapi seorang teman saya di fakultas, tadinya tidak menyukai membaca. Namun saat kuliah ini dia menjadi begitu menyukai membaca, bahkan buku yang cukup berat. Saya sangat menghargainya karena keinginan membacanya muncul dari dorongan diri sendiri. Luar biasa.

Mau membaca atau tidak memang sebuah pilihan. Tapi saya rasa hampir semua tokoh besar di dunia ini  menyukai membaca.

 

Satu pemikiran pada “Baca Tulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s