Minggu, 14 April 2012

Hari ini saya mengikuti kegiatan mentorology. Pelatihan untuk menjadi seorang mentor. Bagaimana kisahnya?

Saya awalnya mengira kegiatan ini akan cukup membosankan, diisi oleh pemateri yang kolot dan membosankan. Ternyata 100% tidak seperti itu. Pelatihan ini seungguh menyenangkan

Materi pertama adalah motivasi untuk menjadi seorang mentor. Materi ini diisi oleh seorang mahasiswa kedokteran dari Universitas Kristen Maranatha. Namanya kang Dito. Mengapa beliau yang mengsisi pelatihan di ITB ini? Ternyata beliau adalah seorang alumnus SMAN 3 Bandung, sekolah yang paing banyak mengirim lulusannya ke ITB. Kemampuan mentornya yang mungkin luar biasa (saya tambahkan mungkin bukan karena saya tidak percaya, tapi memang belum pernah melihatnya mementor)membuatnya diminta menjadi pemateri dalam pelatihan mentor ini. Beliau yang sudah menjadi mentor sejak kelas 3 SMA ini sudah menghasilkan didikan yang luar biasa pada tahun pertama beliau menjadi mentor.

Yorga Permana, yang bentar lagi akan diangkat sebagai Mentri Kebijakan Publik KM-ITB ternyata adalah adik mentor beliau semasa di SMAN 3. Akrimni Al-Habil, ketua panitia Pemilu Raya KM-ITB  pun adik mentor beliau. Masih ada bebrapa nama lagi yang memiliki posisi cukup penting di kemahasiswaan ITB ini yang juga anak mentor beliau. Saya jadi teringat kang Epul, senior saya (saya lulus 2011, beliau 2005) di rohis SMAN 5 Bogor (rohis ini lebih dikenal dengan nama ITHRI). Saat metoring masih berjalan di sana (sekarang sudah dilarang sekolah), tiga dari adik mentor beliau menjadi Ketua Umum OSIS, Ketua 1 OSIS, dan juga Ketua 2 OSIS pada tahun yang sama! Saya pun jadi teringat teringat dengan Kang Ridwansyah Yusuf Ahmad atau biasa dipanggil kang Ucup. Saya sebenranya belum kenal secara pribadi dengan beliau. Beliau adalah Presiden KM-ITB periode  2009-2010.Beliau juga seorang mentor, dan diantara adik mentornya ada yang bernama Tizar Bijaksana yang kelak menjadi Presiden KM-ITB, dua tahun setelah kang Ucup menjadi Presiden.

Memang mentoring adalah salah satu cara paling efektif dalam melakukan pengaderan, dan sebaik-baiknya pemimpin adalah yang mampu menyiapkan generasi penerusnya. Inilah motivasi utama saya untuk menjadi mentor. Saya harus bisa menyiapkan generasi penerus saya yang harus lebih hebat dari saya. Dan untuk dapat menyiapkan generasi penerus yang hebat, saya pun harus menjadi orang yang hebat. Sehingga saya harus terus mengembangkan diri ini, jangan cepat puas karena memang tantangan ke depan akan jauh lebih berat. Kata Anies Basweda, pemuda sekarang harus mampu bersaing di tingkat global. Yah.. tingkat global! Bukan lagi masanya hanya menyiapkan diri bersaing di tingkat lokal. Saya rasa saya telah melewati tantangan di materi pertama ini: menemukan motivasi untuk menjadi mentor.

 …… . . . …. . . . . .  ….. . .

Saya akan menceritakan pengalaman kang Dito saat menjadi mentor yang beliau ceritakan saat mengisi materi di Mentorology, dengan bahasa saya, kurang lebih ceritanya seperti ini:

Saya saat itu kelas 3 SMA di SMAN 3 Bandung, dan saya ingin sekali memiliki adik mentor. Maklum saya anak bungsu sehingga tidak pernah merasakan mempunyai seorang adik. Akhirnya saya membentuk sebuah kelompok mentoring yang terdiri dari anak-anak kelas 1.

Seperti apa mentoringnya? Mentoring itu tidak harus melingkar di masjid dan membahas ilmu-ilmu agama secara berat dan membosankan. Mentoring seharusnya dibuat se-enjoy mungkin.

Saya pernah membawa adik-adik mentor saya ke tempat paling tinggi di Kota Bandung: Menara Masjid Agung. Dan di sana, layaknya bocah SMA kita enjoy-enjoyan saja dan melempar-lempar kertas dari atas menara, melihatnya jatuh dari ketinggian 81 meter. Dan disaat sedang berasikria, ada yang bertanya kepada saya tentang bagaiman cara shalat yang benar itu. Dan akhirnya kita mendiskusikan hal tersebut, dengan  menyenangkan.

Saya pun pernah membawa adik-adik mentor saya ke tempat yang lebih tinggi lagi: Dago Pakar. Dan di sana kami menyaksikan tenggelamnya matahari bersama-sama. Di saat itu ada salah satu adik mentor saya, sambil mendengarkan lagu merdu (saya lupa judulnya, tapi lagu islami yang udh familiar bgt gitu), tiba-tiba menangis menyesali kenakalannya saat SMP dulu. Konon katanya sampai merubuhkan dinding sekolah.

Seperti itu lah mentoring harusnya dilaksanakan. Materi atau pun nasehat yang ingin diberikan harus bisa disampaikan dari hati ke hati. Menjadi mentor itu juga harus 24 jam. Kumpul rutin dua jam per pekan saja sangat lah tidak cukup. Di luar jam itu kita harus terus dapat menjadi sahabat bagi mereka, tempat mereka bercerita, mengadu, mengeluh dan lain sebagainya.

Dan dengan cara seperti itu telah terbukti kang Dito berhasil menghasilkan didikan yang luar biasa. Sebenarnya ada satu cerita lagi, mengenai adik mentornya yang tadinya sangat bengal berhasil menjadi anak yang begitu baik dengan cara kurang lebih sama seperti cerita di atas. Namun terlalu panang bila diceritakan pula di sini.

. .  . …. . .. … . .

                Tapi menyoal menjadi mentor, apa saya sudah pantas menjadi seorang mentor? Padahal masih banyak perintah agama yang masih saya langgar. Banyak sekali. Dengan diri masih berlumur dosa seperti ini, kau masih berani untuk mementor? Apa pula ilmu agama yang telah kau kuasai?

Bukan. Mementor bukanlah seperti mengisi majelis ta’lim. Bukan pula seperti memberikan khotbah. Mentoring adalah kegiatan saling menasehati. Setahu saya dalam surat Al-‘Asr kita diperintahlan untuk saling menasehati. Dan bisa jadi justru saya (kelak bila sudah mementor) yang akan mendapat lebih banyak nasehat dari adik mentor saya. Dan justru dengan mementor ini saya dapat memperbaiki diri.

Lagi pula motivasi saya sudah jelas, ingin mengkader generasi penerus. Bila sekarang saya belum siap, maka siapkanlah! Dengan menjadi mentor, saya akan terus termotivasi untuk mengembangkan diri, memperbaiki diri. Dan saya akan mendapat bantuan untuk menjaga diri dari perbuatan yang buruk karena kontrol sosial yang kuat yang akan saya dapat dari dari adik-adik mentor saya, mungkin pula dari teman-teman saya yang lain. Apa yang akan terjadi bila saya ketahuan melakukan perbuatan yang tidak sesuai apa yang saya katakan kepada adik mentor saya? Akan menjadi sampah diri ini. Mungkin lebih rendah dari sampah, karena tanpa ketahuan pun sudah menjadi sampah sebenarnya. Atau jangan-jangan, sekarang ini saya telah menjadi sampah? Semoga Allah SWT melindungi saya dari golongan munafik. Amin.

.  …. . . ….. .. ..

Ada yang tertarik juga menjadi mentor? Silahkan berbagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s