Mencoba Mencari Prinsip dalam Pancasila

 Sejak SD saya sudah hafal semua sila yang terdapat pada Pancasila dan fasih dalam membacanya, mungkin pengecualian pada sila keempat yang cukup sulit untuk dilafaskan secara lancar oleh anak seusia itu. Namun hingga saya menginjak bangku SMA, pengetahuan atau pemaknaan saya terhadap Pancasila tidak lebih dari pada itu. Saya tidak mengerti bagaimana mengaplikasikan Pancasila, atau menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup seperti yang dituliskan pada buku PKn (atau PPKn) dahulu.

Ketuhanan yang Maha Esa? Kemanusiaan yang adil dan beradap? Persatuan Indonesia? Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Oke, memang begitu dalam dan indah kata-kata ini, tapi bagaiman menerapkannya? Bahkan saya bingung untuk mencari panutan dalam melaksankan ini. Soekarno, bukankah beliau sang perumus Pancasila? Namun ternyata di akhir jabatannya justru ia menjadi seorang diktator, sang Presiden seumur hidup. Jadi seperti itukah Pancasila itu dijalankan? Atau seperti sistem otoriter seperti orde baru, yang selalu ‘menjunjung tinggi’ Pancasila?  Atau seperti sistem demokrasi terbuka  seperti sekarang? Yang mana yang Pancasila itu?

Ekonomi Pancasila, apa itu? Apakah itu semacam ekonomi sosialis? Atau liberal seperti yang semakin berkembang di Indonesia saat ini? Atau gabungan keduanya? Seperti sosial demokratkah? Saya tidak pernah tahu. Yang saya tahu, setiap rezim seakan bebas memakai sistem ekonomi yang menurut mereka terbaik. Terbaik? Tidak, tidak, mungkin lebih tepat mengikuti sistem yang terkuat saat itu. Jadi, apakah ideologi Pancasila memang tidak memiliki sistem ekonominya? Atau memang keleluasaan itulah yang Pancasila?

Tunggu sebentar, apakah saya tadi menyebut ideologi? Oke, ini juga menjadi pertanyaan yang sering menari-nari dalam kepala saya ini. Apakah pancasila itu sebuah ideologi?  Bila iya, seperti apa alam berfikirnya? Sejujurnya saya tidak begitu paham, atau lebih tepatnya saya tidak pernah tahu secara tegas alam berfikir Pancasila itu. Berbeda dengan ideologi liberal, sosialis, komunis yang dapat menggambarkan alam berfikirnya secara gamblang. Jadi apakah Pancasila itu sebuah ideologi?

Bila pandangan saya tidak salah, Pancasila selalu menyerap berbagai pemikiran yang berkembang di dunia, atau secara normatif, menyerap yang baik dan membuang yang buruk dari berbagai pemikiran yang ada itu. Yah, Pancasila lebih tepat disebut sebagai penengah, penengah dari berbagai pemikiran yang ada. Penengah dari berbagai agama yang ada. Penengah dari berbagai budaya. Penengah dari berbagai etnis. Penengah dari berbagai suku. Dan memang, Pancasila dapat memainkan perannya dengan baik sebagai penengah itu. Karena Pancasila selalu berusaha mencari persamaan dari berbagai perbedaan yang ada. Bhinneka Tunggal Ika. Hingga kebhinnekaan yang dapat terjaga dengan damai, meski kini mulai terusik, sering dibanggakan para pamimpin negeri dalam dunia internasional, dan bangsa ini mendapat cukup banyak pujian akan hal itu.

Tapi apakah ini sebuah kelebihan? Tentu iya. Namun terdapat satu kekhawatiran yang besar dalam benak saya. Apakah ketidaktegasan, ketidakgamblangan dari Pancasila ini menandakan bahwa Indonesia bukanlah sebuah bangsa yang berprinsip?  Saya tidak berani menjwab. Tapi saya khawatir jawabannya adalah iya. Ditambah dengan arus globalisasi yang dapat dengan sangat cepatnya mentransfer pemikiran yang ada di berbagai belahan bumi. Dan kini gejala itu sudah dapat terlihat, bukan? Berapa jumlah pemimpin negeri ini yang masih memiliki prinsip? Baiklah, pemimpin negeri yang tidak berprinsip mungkin sudah jadi cerita basi. Tapi ternyata bukan hanya para pemimpin, lihatlah betapa langkanya rakyat penghuni bumi ibu pertiwi ini yang masih memliki prinsip? Coba tengoklah sekeliling anda. Atau mungkin, ternyata kita ikut andil dalam membuat kelangkaan ini?

Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka menyesuaikan daripada cekcok urusan prinsip….

…Itu watak semua bangsa yang membuang prinsip dalam pertemuannya dengan bangsa-bangsa yang lebih berprinsip.”    – Pramoedya Anant Toer, dalam novel Rumah Kaca

 

Bandung, 12 September 2012

23:31 WIB

Hanya sebuah renungan malam…

Muhammad Azka Gulsyan

http://www.azkagulsyan.wordpress.com

Satu pemikiran pada “Mencoba Mencari Prinsip dalam Pancasila

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s