Bagaiman cara mengambil keputusan ?

Sendiri di rumah saat liburan memang sedikit menyebalkan. Apa bedanya sama di kosan? Yah, tapi setidaknya kesendiriran ini memberi hikmah berupa waktu untuk menulis blog yang cukup lama “tidak tersentuh” ini..

Baiklah, kita langsung menuju topik. Saya ingin membahas mengenai: pengambilan keputusan. Tentunya saya tidak ingin membahas berbagai teori kepemimpinan. Saya hanya ingin menuliskan beberapa hal yang terngiang-ngiang (apa ini bahasa Indonesia?) di kepala saya.

Jadi, tadi pagi saya menjemput nenek saya yang baru tiba dari Padang di Bandara Soekarno-Hatta (ps: jangan pernah menyingkat nama bandara ini menjadi ‘Soetta’, apa susahnya menyebut nama proklamator kita dengan benar?). Singkat cerita, saya akan mengantar nenek saya rumah tante saya (di sana nenek saya tinggal) di kawasan Bintaro. Dan sejujurnya saya kurang hafal jalan menuju sana. Akhirnya saya menelepon ibu saya, dan ibu saya menyarankan lewat jalan ‘biasa’ saja, yakni lewat tol dalam kota dan keluar di   Pondok Indah dan lanjut dengan tol ke arah Bintaro. Setiap ke rumah tante saya dari Bogor, kami selalu menggunakan rute Pondok Indah ini.

Tetapi sebenarnya, ada sebuah rute lain. ‘Rute lain’ ini dapat mempersingkat perjalanan. Namun sayangnya saya lupa rute tersebut karena baru sekali, dan itu pun dulu sekali, saya  melewatinya. Dan ibu saya pun menyuruh saya melewati ‘rute biasa’ saja.

Lalu sesaat sebelum berangkat meninggalkan bandara, saya membicarakan hal ini dengan nenek saya. Setelah disederhanakan dan ditranslet (karena nenek saya menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Minang), kurang lebih percakapan kami seperti ini:

“Mam (saya memanggil nenek saya ‘Mamam’), kita mau lewat jalan biasa yang tol dalam kota atau lewat jalan cepet?” tanya saya.

“ooh yang belok ke kiri itu? Iya lewat sana (jalan cepat) aja” jawab nenek saya.

“mamam tahu jalannya?”

“aah gampang masalah jalan tuh” Nenek saya sebenarnya tidak tahu.

“yaudah kalo mamam gatau juga mah lewat tol dalam kota aja ya, dari pada nyasar. tapi macet sih lewat sana..”

“Azka nih gimana, kalo salah jalan ya tinggal belok, muter balik. Kamu ini terlalu sering cemas mamam lihat. Pemimpin gak boleh kayak gitu. Hadapi aja apa yang ada, gak usah banyak mikir-mikir dan cemas-cemas!” Nasehat nenek saya dengan suara sedikit meninggi.

Yah, kalimat terakhir nenek saya ini yang terus teringat di kepala saya. Pemimpin gak boleh kayak gitu. Hadapi aja apa yang ada, gak usah banyak mikir-mikir dan cemas-cemas. Pertanyaan saya, benarkah harus seperti itu? Pertanyaan lanjutannya, sebenarnya bagaimana seharunya kita mengambil sebuah keputusan?

Saya pada dasar nya adalah orang yang perfeksionis dan detail, meski kini saya terus coba kurangi hal tersebut karena saya merasa tidak terlalu baik jika kedua sifat tersebut terlalu mendominasi. Karena itu, dalam melakukan segala sesuatu saya selalu memikirkannya sebaik mungkin sebelumnya. Termasuk dalam mengambil keputusan.

Sedangkan nenek saya memiliki sifat yang berkebalikan. Nenek saya sangat sering mengambil keputusan yang ‘tidak terduga’ secara ‘seketika’, entahlah apakah ia telah memikirkan dampak yang akan ditimbulkan sebelumnya. Mengkin cerita berikut bisa menggambarkan sifat nenek saya tersebut. Tapi saya akan ceritakan latar belakangnya terlebih dahulu.

Kakek saya meninggal dalam usai muda, saat ibu saya masih duduk di kelas 4 SD. JAdi nenek saya membersarkan empat orang anak seorang diri, dan nenek saya bukanlah seorang wanita karier. Namun yang mengherankan adalah keempat anaknya dapat menjadi sarjana, bahkan ada yang menjadi doktor, dan memiliki karier yang dapat dibilang sukses. Mengapa mengherankan? Karena saat kakek saya masih hidup, nenek saya tidak pernah menabung ataupun menyiapkan semacam deposito untuk persiapan masa depan anak-anaknya. Dan seperti yang saya bilang, nenek saya tidak memiliki penghasilan. Jadi dari mana mereka bisa hidup? Semua rezeki itu bersumber dari Allah, begitu jawabnya tiap kali ditanya mengenai hal ini.

Oke, kita lanjut ke cerita. Jadi suatu ketika om saya harus membayar uang kuliah pada keesokan hari. Dan untungnya saat itu nenek saya sedang memiliki uang di tangannya. Namun sesuatu terjadi. Datanglah seseorang kepada nenek saya. Dia bercerita bahwa anaknya harus membayar sekolah, namun dia tidak memiliki uang, dan intinya dia meminta bantuan ke nenek saya. Dan anda tahu apa yang terjadi? Nenek saya memberikan uang tersebut, uang yang seharusnya digunakan untuk membayar uang kuliah om saya esok hari diberikan begitu saja kepada orang tersebut!

Sejujurnya saya tidak habis pikir saat mendengar cerita tersebut. Bagaiman bisa nenek saya memutuskan untuk memberikan uang tersebut? Dan yang terjadi, keesokan harinya nenek saya menego pihak tempat kuliah om saya agar diizinkan menunda pembayaran. Bukankah ini sangat tidak logis!? Mengapa nenek saya bisa mengambil keputusan memberi uang nya?

Dan banyak cerita semacam itu dalam kehidupan nenek saya. Konsep dasarnya, hadapi dan serahkan semua ke Allah. Yah, dan memang terbukti, ia mampu membuat keempat anaknya menjadi ‘orang’.

Cerita ini memang sesuai dengan nasehat nenek saya tadi. “Hadapi saja apa yang ada”. Yah, hadapi saja. Saat ada orang meminta uang karena sangat butuh, hadapi dan berikan. Esoknya, saat tidak ada uang untuk bayar kuliah, hadapi, cari jalan keluar. Nego kampusnya. Saat tidak tahu jalan, hadapi, jalani saja setahunya. Bila salah, putar balik, cari jalan lagi! Hadapi!

Dan entah mengapa semua itu berhasil. Tanpa hitung-hitungan di awal, tanpa mempertimbangkan resiko dan dampak. Dan saya lupa bilang tadi, bahwa akhirnya perjalanan saya dari bandara berhasil dilalui dengan lebih cepat dan bebas macet lewat ‘rute cepat’ yang awalnya saya tidak ketahui itu.

Namun saya masih belum yakin, jadi bagaiman seharusnya kita mengambil keputusan? Apakah hadapi saja tanpa banyak mikir-mikir? Atau kita persiapkan matang-matang, dikaji dulu, baru mengambil keputusan?

Sejujurnya saya mulai tertarik dengan konsep ‘hadapi‘ nya nenek saya, karena saya selama ini menjalankan konsep yang satunya. Namun mana yang lebih baik? Atau lebih baik gabungan keduanya? Yah sifat orang kita, mengambil jalan tengah. Jadi mana yang lebih baik? Entahlah. Saya rasa tidak perlu dikaji terlebih dahulu. Kita coba-coba saja dulu. Hadapi dulu! Dan serahkan semua hasilnya pada Allah..

Bintaro, Jumat 28 Desember 2012. 16.58WIB. Dan kini saya gak sendiri lagi di rumah karena nenek saya sudah pulang hehee

Satu pemikiran pada “Bagaiman cara mengambil keputusan ?

  1. tulisan ini menjadi hadiah terindah utk bday mamam….. great…..dear. mamam membaca nya dg bahagia, walau azka blm bs ke bintaro, tetapi tulisan ini mewakilinya…..love
    24 jan 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s