Berfikir sistematis? Waduh !

Himpunan saya, dan/atau jurusan saya sagat menekankan yang namanya ‘sistematika berfikir’. Kami selalu diajarkan untuk berfikir secara sistematis. Dalam merumuskan sesuatu, kami selalu diharuskan untuk memulainya dari isu, tema, topik, masalah, tujuan, sasaran, strategi, indikator, parameter dan lain sebagainya. Mungkin hal ini pulalah yan menjadi salah satu kebanggaan kami. Di website resmi planologi ITB, dijelaskan bahwa lulusan planologi akan memiliki pola berfikir yag sistematis. Himpunan kami pun cukup dikenal sebagai himpunan kajian (entah apa masih pantas menyandang sebutan ini), mungkin karena kemampuan berfikir sistematis ini pula. Namun saya rasa jurusan lain mungkin mengalami hal yang sama. Pertanyaannya adalah bukankah hal tersebut sangat baik? Dalam beberapa hal, iya. Berfikir secara sistematis seperti itu membuat kami dapat merumuskan suatu masalah secara baik, dan menyelesaikannya sistematis, teratur. Lalu apa masalahnya?

Jika boleh sedikit curhat, terkadang pengharusan penggunaan sistematika tersebut membuat saya terkadang merasa sedikit frustasi. Mengapa? Saya merasa kreatifitas saya jauh terhambat dengan hal ini. Dalam setiap melakukan berbagai hal, misalnya dalam kepanitiaan, membuat sebuah acara, diklat atau hal-hal lainnya kami menjadi hanya sibuk mengurus sistematika berfikirnya. Para ‘orang-orang kritikus’ itu hanya sibuk mengkritisi sistematika berfikir dari acara-acara yan diadakan. Dan akhirnya seperti yang saya sebut tadi, fokus kami menjadi tercuri oleh penyusunan sistematika tersebut. Dan dampaknya? Fokus untuk membuat solusi-solusi kreatif menjadi teralihkan. Yah, akhirnya kami sibuk mengurus prosesnya saja, dan bukan hasil akhir. Hal ini membuat hasil akhir yang dihasilkan menjadi ‘biasa-biasa saja’. Kami tidak bebas untuk meng-explore solusi-solusi, atau berbagai hasil akhir yang menarik dan kreatif. Sekali lagi, karena kami lebih sibuk engurus sistematikanya saja.

Bukannya hanya itu, dengan fokus yang berlebihan pada sistematika berfikir ini membuat ide-ide kami menjadi terhambat. Proses sistematika berfikir yag panjang ini seperti memasang kacamata kuda di kedua bola mata kami, semakin panjang proses yang harus dilalui semakin panjang pula kaca mata kuda kami. Tapi sepertinya kacamata kuda ini adalah kacamata kuda khusus yang telah dimodifikasi dengan ditambahkan alat canggih seperti yang terdapat pada mata robot-robot di film-film (dapatkah anda bayangkan?), yang memberikan kemampuan untuk menganalisis sesuatu secara lebih mendalam. Semakin panjang alat tersebut, semakin canggih kemampuan alat tersebut. Namun kacamata kuda tetaplah kacamata kuda. Kacamata kuda ini menghalangi kami untuk melihat sekitar. Dan, kami terkurung dalam kotak. Tidak ada tempat bagi kami untuk melakukan sesuatu yang banyak orang sebut berfikir out of the box. Hasilnya? Hasil kerjaan kita akan biasa-biasa saja. Kreatifitas terhambat, dan ruang inovasi tersendat.

…………………………………………….

Jeng jeeeeeng!!

Akhirnya saya menemukan solusi atas frustasi saya. Mahkluk itu bernama design method (atau design thinkning, sejujurnya saya belum terlalu bisa membedakan keduanya). Design method ini adalah cara berfikir yang bertolak belakang dengan sistematika berfikir konvensional. Jadi, secara sederhana design mehod  ini adalah metode berfikir selayaknya seorang desainer atau arsitek, yang setelah mengetahui ‘mengapa’ sesuatu’ itu diadakan, dan langsung loncat bebas mencari solusi atau hasil akhir. Dan efeknya, kita bebas meng-explore hasil akhir! We can think out of the box! Tidak ada lagi hambatan kacamata kuda. Dan hasil akhir yang dihasilkan cenderung sesuatu yang memiliki daya kreatif tinggi karena sejak awal pikiran kita tidak terbatasi dengan berbagai hal. Kita bebas berbagai solusi atau hasil akhir yang kita mau, bebas berinovasi. Lalu, baru setelah itu hasil eksplorasi tersebut kita cari sambungkan dengan dasar (si ‘mengapa’ tadi) dari diadakanya acara atau apapun itu yang sedang kita kerjakan ini. Sehingga hasil akhir tersebut tetap memilki dasar yang kuat untuk menjawab persoalan awal.

Yah, saya akui pengetahuan saya tentang metode berfikir gaya baru ini masih sangat minim. Mungkin nanti saya akan coba membuat tulisan tentang hal hal ini secara lebih mendalam. Tapi kesimpulan yang bisa saya ambil sampai saat ini, sistematika berfikir sistematis tentu sangat berguna, terutama dalam pengembangan ilmu-ilmu sains. Namun satu hal yang perlu kita ingat, jangan memaksakan menggunakan hal ini pada berbagai hal lainnya! Terutama dalam kepanitiaan, acara atau berbagai hal lainnya yang dibutuhkan solusi kreatif. Karena dalam hal itu, ada metode lain yang lebih tepat sasaran, the design medthod!

Sekian dulu.

8 pemikiran pada “Berfikir sistematis? Waduh !

  1. Hahaha.. iseng2 lewat baca tulisan gini jadi ngerasa bersalah.

    Tenang aja berfikir sistematis tidak selamanya mematikan kreativitas kok. Justru dengan berpikir sistematis, kreativitas bisa muncul lho. Ketika paham apa, mengapa, kenapa, dan bagaimana, ketika itupula muncul yang namanya kreativitas (seharusnya sih.. :D). Kenapa bisa begitu? Hahahaha.. pasti tau dong jawabannya..

    Saya akui kadang itu yang bikin kita banyak ga bergerak dan berbuat lebih terhadap suatu hal. Terlalu banyak ngomongin ini itu.. eh masalahnya udah keburu kelar bos. hahaha. Tapi suatu saat saya yakin kamu bakal sadari, bahwa sebuah kreativitas adalah bentuk manifestasi dari pemahaman yang lebih mendalam mengenai akar permasalahan yang ada. Gebrakan tanpa dasar yang kuat juga bisa menjadi satu kesia – siaan lho. Apalagi kalo sampai jadi beban dan bentuk pola pikir generasi adik – adik nantinya. Di KM-ITB udah kerasa lho🙂

    Dan balik lagi sistematika berpikir membuat kita lebih paham bagaimana melangkah, lebih mampu melaksanakan hal – hal yang tepat guna, bahasa kerennya efektif dan efisien lah ya. Karena suatu saat kita akan melihat suatu keterbatasan dalam bentuk apapun.

    Akhir kata anggaplah dua hal ini yaitu sistematika berpikir dan kreativitas bukanlah dua hal yang bertolakbelakang, tapi saling menciptakan, mengisi, dan memperkuat. Ya ini opini aja sih, hahaha.. ga usah terlalu dianggap penting.

    Semangat buat DDAT nya ya bro. Satu hal yang saya pengen ingetin ke kamu, jadilah individu yang tidak hanya mampu memberikan manfaat buat sekitar, tapi buatlah orang sekitar juga bermanfaat terhadap lingkungan di sekitar mereka. Dimanapun kamu berpijak ingatlah keluarga – keluargamu, dan bangun kebermanfaatan disana.

    Salam Super!

    1. Haha oke kak. Maksud sy emg gmw menfikan mnfaat dr berfikir sistematis, dn emg menurut sy mnfaatnya besar. Cm yg mw sy kritik dsni tuh trkadang ank itb cenderungnya (masih sebatas subjektif sy sih) jutru lebih fokus ke proses berfikirnya dn melupakan hasil akhir. Padahal yg bakal diliht nnt kn hasil akhir. Dn ini jg refleksi dr hasil tugas besar osjur dua thn belakangan yg hsilnya ‘biasa aja’, krn yg difokusin proses berfikirnya aja.

      Tp tenang kak penyusunan konsep DDAT sistematis kok hehe

  2. Cari inspirasi, menyusuri google dengan keyword ide sistematis, telah menjerumuskan aku kesini… Iyey! isinya silau… Haha…

    Sebenernya saya lagi bingung. Saya itu punya banyak ide, terus karena saya itu pelupa jadi ingin ditulis. Ketika dibaca kok berantakan. Ditulis deh dikompi. Tetep berantakan. Hehe. Pinginnya sih ada tag, terus ada bisa disearch textnya, dll. Biar sekaligus rapi dan teratur, bisa dicari dengan mudah. (Alasan utama kenapa pake kompi)

    Setelah baca2 di Internet ada kata yang namanya sistematis, wah aku tahu artinya tapi enggak tahu makenya, search deh…

    Akhirnya setelah baca ini ada beberapa hal yang sudah agak terang dibanding sebelumnya. Artikelnya juga belum sebulan, masih anget. Nice Share!

    Setelah mendapat penerangan, saya jadi tertarik untuk mempelajari sistematis ini.
    Ya untuk membuat catatan ide yang sistematis, harus tahulah apa isinya sistematis itu.
    Ternyata ada side effectnya toh.

    Mau opini tapi enggak jadi ah. Aku baru belum begitu mengenal yang namanya sistematis ini, Takut salah. Terlihat bego.

    Tapi dikit aja deh.
    Berpikir sistematis kesannya memberi tembok biar terarah.
    Berpikir enggak sistematis kesannya enggak terbatas karena tidak mengenal tembok.

    Berpikir sistematis effektif dan effisien namun agak fokus terhadap sistem.
    Berpikir enggak sistematis dapat mengexplor wawasan dan mencari gagasan lebih dalam namun enggak effektif dan effisien.

    Jadi mungkin solusinya sistematisnya di per simple / sederhana. dan usahakan mood berpikirnya yang bagus, biasanya kalo lagi galau agak ribet. Lupain dulu. Terus kalo susah lupa biasanya saya suka berhenti berpikir terus melakukan pekerjaan lain. Contohnya sih kalo mandi, bersih2, dan solat malah dapet ide. Hehe. Mungkin enggak semua orang sama dengan saya juga sih. Mudah2an bermanfaat,

    Good job deh artikelnya, berguna banget.

  3. Salam kenal om anonym haha. thx sarannya dan udh mau baca. setuju emang kedua jenis pemikiran ada positif negatif. tulisan ini tuh sebenernya pengen mengkritik kultur (beberapa?) anak ITB yg terlalu men’sistematis’kan berbagai hal yang sebenarnya gk perlu disistematiskan sehingga menghambat daya kreatif. dan terkadang lebih fokus ke sistematika nya dari pada hasil akhir. gitu sih hehe. boleh dicari tahu tuh creative thinking

  4. iseng2 juga nih karena kecewa gajadi ngepos tulisan di tumblr dan iseng2 juga buka grup kebeneran ada share yang ini hihi
    setuju sama kak Tiok di atas sih. sejujurnya emang solusi kreatif dan berfikir sistematis itu saling mengisi. dengan berfikir sistematis, kita jadi kenal solusi2 yang mungkin buat Azka konvensional, dan tahu gimana kalo solusi2 ini diterapkan (secara penilaian efektivitas dan efisiensi) yang justru dari sana menurutku harusnya muncul ide-ide lain yang (harusnya) lebih inovatif dibandingkan dengan solusi-solusi yang pernah ada.

    sejujurnya saya juga baru tahu nih soal design method (tepatnya baru tahu kalo itu juga ada istilahnya hehe)😀 sebenernya ketika kita terbiasa mengenal pola2 berfikir sistematis, justru kita akan sangat terlatih loh menggunakan metode design ini. kenapa? soalnya ketika kita loncat ke solusi2 intuitif, pada akhirnya kita akan bisa kembali merunut dasar2 yang menguatkan kita untuk menerapkan solusi itu dan menjadi pijakan dasar, kenapa sih kita harus pakai solusi yang ini?

    good opinion nih Azka soal berfikir sistematisnya🙂
    tapi memang ga selamanya kok berfikir sistematis ini menjadi metode paling bagus untuk menentukan solusi. memang harus ada saatnya ledakan-ledakan pemikiran itu diwadahi oleh metode-metode yang lebih ‘liar’ tapi semoga tetap ingat untuk tidak mengurangi nilai-nilai urgensi dari penemuan dasar-dasar berfikir. toh pada dasarnya kita ini anggota masyarakat akademis kan?🙂

  5. coba tanya jeje, dia kayaknya pernah ngalamin kayak lo deh. kalo menghalangi kreativitas sih menurut gw tergantung kondisi dan waktu yang tersedia. imho, saat lo udah bisa menemukan solusi dengan cara yang lo sebut di atas, lo akan lebih mudah mensistematiskannya. saat lo di dalam sebuah lingkup akademisi, ya lo mau g mau harus ngerjain segala sesuatunya secara sistematis, kalo kata buteti, apa yang kita kerjakan dalam TA harus bisa di terima oleh civitas akademik. dan civitas akademik menjunjung tinggu metodologi penelitian yang runut dan jelas. sehingga dapat di jadikan acuan serta dapat di pertanggung jawabkan.

  6. Halo, salam kenal. Habis ‘jalan – jalan’ di fbgrup HMP, lagi rame soalnya🙂. Eh ketemu ini. Saya suka tulisan ini, dan baru ‘ngeh’ juga sama istilah design method hehe. Setuju sama para komentar di atas, kalau sudah terlatih berfikir sistematis, akan lebih mudah menggunakan metode ini (meskipun itu kembali pada preferensi individu). Kalau sudah paham dan terlatih sejak kuliah, wah ini keren sekali. Karena dalam dunia non- kemahasiswaan (alias nanti waktu kerja), seringkali kita perlu bergerak cepat namun tetap terarah serta dapat dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Keahlian berfikir sistematis, cepat dan memberikan solusi kreatif itu jadi nilai plus buat kita.
    Ini hanya opini, sebatas pandangan dari pendeknya pengalaman dan sempitnya dunia kerja saya. Semoga tetap bermanfaat dan tetap menulis yang kayak begini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s