Antara Perasaan dan Pikiran (sebuah buah pikiran dari seminggu studio)

Beberapa hari yang lalu baru saja anak-anak planologi 2011 menyelesaikan survei studio proses. Survei itu dikakukan selama seminggu di tiga tempat. Saya mendapat lokasi di kecamatan parompong-cisarua, sebuah daerah yang penduduknya masih bersahaja. Tapi bukan cerita tentang survei yang ingin saya ceritakan di sini, melainkan sebuah buah pikiran yang saya dapatkan berkat pengalaman seminggu studio bersama teman-teman saya.

Mengenai momen. Kini saya selalu teringat nasihat sahabat saya Sasthi Nandani yang mengatakan kepada saya bahwa setiap momen adalah berharga, dan kita harus menghargai setiap momen yang kita dapatkan. Awalnya saya resisten terhadapa nasihat ini. Sebelumnya bagi saya bagitu banyak hal-hal tidak penting dalam hidup ini yang tidak perlu kita ingat, dan begitu banyak kata-kata sampah yang tidak perlu kita hiraukan. Tapi berbagai momen-momen selama seminggu studio, mulai dari momen paling menyedihkan kehilangan seorang teman (semoga arwah almarhumah diterima di sisi Allah SWT), momen-momen sepele seperti menyapu atau cuci piring, momen bersusah-susah bersama mencari responden, momen berfoto-foto di tengah perkebunan, momen mengobrol dengan petani sederhana, momen evalusai samapi kantuk gak tertahan, momen bercanda gak jelas, momen perebutan tempat menjelang tidur, momen mengantri kamar mandi, momen bully-bullyan, momen bermain sapi, momen bermain game pata pong miliki saduara dari negeri sebrang yang sangat gak jelas itu dan berbagai momen lainnya, membuat saya mengerti bahwa nasihat itu benar adanya. Dan berbagai momen tersebut memberi saya sebuah pelajaran: kita tidak bisa hidup hanya dengan pikiran.

Apa maksudnya? Ternyata begitu banyak momen yang hanya bisa dimengerti dengan menggunakan perasaan (mungkin menggunakan kata ‘perasaan’ sedikit menjijikan bagi seorang, tapi ini adalah kata yang paling tepat). Dan ternyata, begitu banyak momen yang akan dianggap sampah jika kita menyikapinya hanya dengan menggunakan pikiran. Mungkin mengucapkan kata “semangat ya” bagi orang yang sedang kesusahan atau “hati-hati ya” bagi orang yang mau melakukan perjalanan adalah sampah menurut pikiran. Karena secara logika dengan mengucapkan kata-kata tersebut masalah yang dihadapi orang tsb tidak akan dapat terselesaikan. Tapi ternyata secara perasaan kata-kata tersebut memiliki “kekuatan” yang tidak bisa ditelaah dengan logika. Atau mungkin momen seperti perebutan tempat menjelang tidur yang selalu dilakukan pria-pria studio A setiap malam, menurut logika tidak ada manfaatnya sama sekali karena hanya mengurangi waktu tidur saja  yang logikanya akan mengurangi kebugaran tubuh. Tapi ternyata momen tersebut membuat kami semakin menjadi dekat dan itu berpengaruh pula pada semangat kami menjalani studio. Dan hal itu hanya bisa dimengerti dengan perasaan.

Namun apa itu yang dimaksud perasaan? Mungkin saya bukan orang yang ahli menjelaskan hal ini. Sejak kecil saya adalah orang yang selalu berusaha menutupi apa yang saya rasakan sehingga pengetahuan saya tentang makhluk yang satu ini tidak begitu baik. Mungkin saya baru mulai mengerti masalah perasaan saat mencoba memiliki seorang pacar saat SMA, dan setelah itu ibu dan kakak perempuan saya mengatakan bahwa saya kini menjadi lebih baik terhadap mereka. Yah mungkin karena setelah pacaran saya mulai belajar ‘hidup dengan perasaan’ hehe. Tapi intinya tidak perlu lah kita mendefinisikan dulu apa itu perasaan, toh lokasinya saja masih belum jelas apakah berada di hati (di dada) atau di otak. Yang pasti, hidup lah dengan perasaan!

Tapi pertanyaan nya adalah, apakah cukup bila kita hanya hidup dengan perasaan? Sama seperti bila kita hanya hidup dengan piikiran, jawabannya adalah tidak. Keduanya adalah ibarat dua sisi mata koin, yang telah dianugrahi kepada setiap manusia. Karena itu kita harus mengasah kedua hal tersebut. Keduanya akan senantiasa mengisis kekosongan masing-masing. Dengan perasaan, berbagai pemikiran yang dihasilkan oleh pikiran akan terasa begitu menyentuh dan mencerahkan. Dengan perasaan pula, maka pikiran akan terdorong unutuk melakukaan sesuatu yang dapat digunakan untuk berbagi dan memberi manfaat. Dengan perasaan, kita dapat menerjemahkan berbagai hal yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran. Dengan perasaan, kita akan dicegah dari berbagai tindakan pikiran yang dapat menyakiti orang lain. Dan dengan pikiran, kita dapat menafsirkan berbagai perasaan yang ada dengan matang. Dengan pikiran, kita dapat mencegah kekeliruan emosional dari perasaan. Dengan pikiran pula, kita dapat mengontrol luapan perasaan yang berlebihan. Dan juga dalam begitu banyak hal lainnya dimana keduanya saling mengisis kekosongan masing-masing. Dan bila kita sudah mampu mengasah keduanya dengan baik, dan membagi peran keduanya seusai dengan proporsi yang semestinya, mungkin itulah dimana kita mulai dapat mengerti apa yang disebut dengan: Kebijaksanaan

Sayangnya sepertinya saya masih belum mengerti sepenuh nya akan hal itu.. Jadi apa itu kebijaksanaan? Entahlah..

(Hanya sebuah renungan)

Bogor dan Bandung

30 Maret dan 4 April

2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s