Jabatan

Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat.

Kini aku berada seribu kilometer lebih dari Kota Bandung. Berada di tepi laut pantai barat Sumatera yang menatap Samudera Hindia menikmati desiran ombak dan menunggu tenggelamnya sang surya bersama nenek ku satu-satunya yang sering terlupakan karena kesibukan kampus. Sangat membahagiakan melihat senyumannya saat menikmati keindahan pantai kampung halamannya.

Ah, bukankah seharusnya kini aku masih harus berada di kampus? Aktivitas akademisku memang telah memasuki fase libur, tapi saat ini kampus ganesha tengah cukup ramai dengan persiapan untuk kaderisasi terpusat nanti. Itu adalah acara prestisius di kampus yang dapat menjadikan para pejabatnya naik daun. Dan itulah yang membuat kampus ini ramai: karena sekarang adalah fase pembagian posisi-posisi padap kepanitiaan tersebut.

Kini sudah mulai terdengar kabar perebutan jabatan itu, bahkan sudah ada yang merencanakan untuk merebut posisi prestisius di kepanitiaan ini, dan menjadikannya sebagai batu loncatan menuju pemegang kekuasaan tertinggi di kemahasiswaan itb. Oh, terkadang aku merasa begitu bodoh meninggalkan kampus di saat seperti ini. Terkadang aku merasa memiliki potensi yang cukup, dan seharusnya ikut turut serta mengambil porsi “kue” jabatan dalam kepanitiaan.

Tapi apalah artinya sebuah jabatan? Jangan salah, jabatan dapat memberikan kenikmatan yang luar biasa, meski hanya sementara dan seringkali semu belaka, namun itu cukup untuk memikat begitu banyak nafsu para manusia yang bodoh ini. Jabatan dengan seketika dapat membuat orang menjadi hormat kepada mu, membesarkan nama kecil mu, memberikan tangan mu kuasa untuk memerintah, bahkan terkadang mengundang uang dan wanita. Bukankah semua itu begitu menggiurkan? Wajar saja bagitu banyak manusia berebut untuk mendapatkannya, bahkan tak segan untuk saling sikut dan menjatuhkan.

Dan kuakui, nafsu itu pun kadangkala hinggap di kepala ku. Aku pernah merasakan “kenikmatan” ini saat menjabat sebagai pimpinan tertinggi di osis sma dulu. Dan memang, jabatan tersebut benar-benar dapat melenakan. Membuat kita merasa seakan-akan sebagai orang besar dan hebat. Dan membuatnya “menagih” untuk diraih kembali. Namun semakin sering ku renungkan, semakin aku berfikir sesungguhnya buat apa semua itu?

Saat pikiran ku sedang sadar dan tak terbuai hawa nafsu, aku begitu takut menjadi salah satu orang yang terbuai untuk mendapatkan jabatan. Takut bahwa diriku akan terkecoh oleh hawa nafsu itu. Padahal yang ku tahu kita tidak boleh mengejar jabatan. Karena dibalik jabatan, dibalik segala “kenikmatan” yang terlihat, terdapat amanah besar yang akan bertengger di pundak kita. Ingatkah bahwa dahulu para sahabat saling menolak mendapatkan jabatan sepeninggalan Rasulullah? Mereka menolak jabatan karena merasa tidak sanggup menerima amanah yang begitu besar yang akan ditanggung di pundak mereka jika mereka menerimanya. Lihat, yang mereka pikirkan bukanlah berbegai hal kebesaran yang akan didapat, tetapi kewajiban yang akan bertambah. Yah, karena jabatan akan dipertanggung jawabkan, bukan hanya dalam LPJ belaka, tetapi dipertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak. Lantas mengapa masih saja begitu banyak manusia mengejar nya?

………………………………

Jadi, bagaimana seharusnya sikap kita menghadapai jabatan? Haruskah kita menghindar dan menolaknya? Inilah pertanyaan yang sudah cukup lama menghinggap di kepalaku.  Sudah cukup lama terjadi pertentangan di dalam diri antara mengikuti sikap para sahabat yang menolak jabatan dengan keinginan mendapatkan jabatan. Di satu sisi, aku berfikir bahwa seharusnya jabatan tidak kita kejar. Namun di sisi lain, aku berfikir dengan memiliki amanah tersebut, memberikan kesempatan untuk belajar mengenai hidup. Dan itu sudah aku rasakan sendiri saat memiliki jabatan di sma dulu, begitu banyak pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan: belajar bertenggung jawab, berbicara di depan publik, problem solving, bekerja sama dengan berbagai macam dan tipe orang, mengendalikan emosi, ketenangan dalam menghadapi masalah, membuat rencana kerja, berhadapn dengan orang-orang yang tidak menyukai kita, menjaga loyalitas anggota, berani mengambil keputusan, tentang kepedulian dan begitu banyak pelajaran hidup lainnya yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Jadi bolehkah jika alasan kita adalah untuk mendapatkan pelajaran (atau pengalaman) tersebut? Kurasa ini jauh lebih baik daripada sekedar memenuhi hawa nafsu akan jabatan belaka.

Tapi tunggu sebentar, bila hanya untuk mendapatkan pelajaran, bukankah kita begitu egois? Yang kita kejar hanyalah menjadikan diri kita menjadi semakin hebat saja. Lantas apa yang kita kejar setelah diri sudah menjadi hebat? Pengakuan orang-orang? Kehormatan dan kebesaran? Heh, pada akhirnya akan sama saja dengan para pemenuh nafsu jabatan itu. Jadi bagaiman seharusnya?

Oh, aku teringat pada sebuah ucapan nabi yang cukup terkenal: “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Mungkin inilah jawabannya! Yah, jabatan memberikan kita kesempatan untuk dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Jadi inilah yang seharusnya menjadi goal kita: memberi manfaat. Dan jadikanlah jabatan hanya sekedar sebagai alat belaka. Yah, hanya alat.

Mungkin itulah mengapa muncul frase pemimpin adalah pelayan. Jangan pernah mengejar jabatan ‘karena jabatannya’, karena berharap mendapat kehormatan dan kebesaran. Ataupun hanya sekedar mendapatkan pelajaran, kecuali memang kau adalah seorang egois. Tapi kejarlah manfaat yang dapat kita berikan, jadilah sang pelayan, dan pelajaran, kebesaran serta kehormatan hanya akan menjadi konsekuensi logis belaka. Karena itu kejarlah jabatan hanya di saat kau merasa yakin telah memiliki ‘sesuatu’ yang dapat diberikan sehingga dapat menjadi manfaat bagi yang lain. Entah itu visi, ide, konsep, pemikiran, tenaga dan lain sebagainya. Bila kita belum memilikinya, aku khawatir yang kita kejar hanyalah si pemikat hati bernama jabatan itu. Dan bila sudah terpikat dengannya, kurasa kita telah menjadi budak hawa nafsu yang menggelikan.

Aku berharap tidak termasuk ke dalam golongan ini.

……………….

Ini hanyalah refleksi belaka, tidak ada maksud menggurui atau memaksa kau megikuti. Namun setidaknya refleksi ini memantapkan aku untuk meninggalkan segala perebutan jabatan pada kepanitiaan terpusat yang aku sebut di awal itu, karena memang belum ada ‘sesuatu’ yang dapat aku beri. Ada beberapa ide, tapi itu masih begitu kurang manfaat yang dapat ku beri dengan amanah yang akan didapat. Yah, mungkin ini terlihat seperti mencari-cari alasan ketidakikutsertaan ku dalam perebutan itu. Tapi biarlah orang berkata. Yang aku lakukan hanyalah ingin mencoba belajar menjalani hidup ini dengan lebih bijaksana. Yah bijaksana. Meski entah apa itu sebenarnya arti dari ‘bijaksana’. Yang pasti, aku yakin, hanya dengan kebijaksanaanlah kita dapat mengerti apa arti hidup sebenarnya. Semoga.

Oh, matahari sudah tenggelam di laut barat. Kurasa saatnya pulang..

Jumat, 23 Mei 2013

Muhammad Azka Gulsyan

Hanya seorang hamba Tuhan biasa

5 pemikiran pada “Jabatan

  1. Sepakat coy! Pemimpin harus ikhlas, yaitu ikhlas untuk menjadikan dirinya pelayan bagi yang “dipimpin”. Meskipun dia punya visi atau ambisi pribadi, namun intinya tetap harus bertujuan untuk memberikan manfaar, khususnya bagi yang dipimpinnya.

    Terus menulis Bro!

    1. Yo, thx bro. Kan lu jg mw maju nih sen di ‘acara ntar’, jaga niat terus lah bro, jgn sampe goyang. Tp ini sebenernya yang paling susah banget kyknya. Dan kayaknya sih cara paling efektif biar niat gk berubah ya inget Tuhan aja sih, terutama ttg kisah sahabat itu (hehe ini sotoy aja sih, gw jg sering lupa)

  2. jadi inget sesuatu yang udah kepikiran dari lama: di negara ini governor itu pemerintah, padahal arti ‘perintah’ dalam kata govern itu cuman sepersekian. sip ka, mantep.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s