Berfikir Ulang

Sejak pertama masuk kuliah dulu, saya sangat bersemangat untuk menjadi seorang ‘aktivis’. Menurut saya aktvisi adalah seseorang yang sangat keren yang, seorang yang memperjuangkan kepentingan rakyat tanpa lelah, yang terus mengabdi terhadap bangsa. Dan itu saya terjemahkan dengan bergabung Kementrian Pergerakan Mahasiswa (yang berganti nama menjadi Kementrian Sosial Politik) dalam Kabinet KM ITB. Semenjak itu saya merasa sudah memulai langkah saya menjadi seorang ‘aktivis’.

Selanjutnya saya berkenalahlah dengan metode andalan pada aktivis ini: demonstrasi, atau biasa dibiaskan dengan sebutan ‘aksi’ yang katanya menghindari imej negatif kata ‘demonstrasi’. Dan akhirnya saya melakukannya, berdemonstrasi!  Dan saya merasa diri saya sudah semakin dekat, atau mungkin sebagian diri saya sudah merasa, menjadi seorang aktivis.

Saya ingat cerita dari senior-senior saya, para “aktivis”, yang pertama-tama mengajak saya berdemo itu. Mereka mengatakan bahwa “aksi” yang kita lakukan ini tidak lah asal-asalan. Kita mengkaji permasalahan terlebih dahulu baru kita menyatakan sikap kita terhadap pemerintah. Dan aksi yang kita lakukan berbeda dengan beberapa elemen mahasiswa lain, kita melakukan aksi dengan damai dan tidak mengganggu ketertiban umum.

Oke baiklah, saya merasa tidak ada salah dengan aksi itu. HIngga akhirnya saya mengikuti aksi  berkali-kali. Benarkah tidak menganggu? Sejujurnya tentu ada gangguan yang kami buat. Coba pikirkan bagaiman mungkin segerombolan orang yang berjalan dan berteriak di bahu jalan tidak mengganggu? Tapi okelah, gangguan yang kami buat tidak seberapa jika dibandingkan dengan para “aktivis” lain yang bakar-membakar itu.

Dan satu, satu setengah, hampir dua tahun saya telah masuk ke dalam dunia “pergerakan” itu. Oh, hebat sekali bukan? Sudah hampir dua tahun saya ‘membela kepentingan rakyat’. Tapi benarkah? Benarkah rakyat itu benar-benar saya bela?

Beberapa waktu belakangan ini, saya mulai berfikir ulang. Benarkah saya sudah berbuat banyak membela bangsa? Membela rakyat? Saya ingat-ingat lagi demonstrasi yang saya ikuti pertama kali, kedua, ketiga.. dan seterusnya. Dari semua itu, dampak apa yang sudah dihasilkan? Manfaat apa yang telah diberikan kepada rakyat? Oh, kau yang mengaku “aktivis” pasti akan menyebutkan keberhasilan membatalkan kenaikan BBM beberapa bulan yang lalu. Tapi benarkah rakyat terbela dengan itu? Toh pada akhirnya BBM harus naik juga. Dan benarkah kita mampu untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah? Atau kita hanya dimanfaatkan saja oleh partai-partai oposisi yang mencari simpati rakyat?

Dan, yang mau saya tekankan lagi, benarkah sikap yang kita ambil sudah merupakan sikap yang benar? Bukannya saya meragukan, tapi saat saya mengikuti kajian BBM beberapa hari yang lalu, dan saya harus mengatakan sesungguhnya apa yang kita diskusikan itu (kalau saya ungkapkan dengan bahasa yang halus) tidak lah seberapa dalam. Dan kita mahasiswa, bergerak terus saja bergerak dengan dasar yang tidak seberapa itu. Oke, kita mengatakan bahwa tidak perlu kajian yang dalam, yang penting kita membela kepentingan rakyat. Tapi sekali lagi saya bertanya, benarkah? Karena pemerintah pun mengatakan hal yang sama, bahwa apa yang mereka lakukan itu untuk kepentingan rakyat. Lalu bagaimana kita bisa mengklaim bahwa yang kita lah yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan pemerintah.

Lalu ada yang bilang minimal aksi ini untuk diri kita sendiri, untuk mengasah kepekaan kita terhadap penderitaan rakyat, mengasah diri kita dapat terus membela rakyat. Dan mari bertanya lagi, benarkah? Betapa egoisnya bila hanya untuk diri kita, kita korbankan rakyat yang mau menggunakan jalan dan berbagai fasilitas lain.

Pada tulisan ini saya hanya bertujuan melempar wacana. Pembahasan lebih lanjut akan coba saya buat pada tulisan selanjutnya. Tulisan ini hanya ingin mengajak kita untuk berfikir ulang, berfikir ulang mengenai pergerakan mahasiswa yang kita bangga-banggakan itu. Berhentilah sejenak, dan merenunglah. Bila kita terus berlari maka kita tidak akan dapat melihat kiri kanan kita, sekeliling kita, dan akan terlalu lelah untuk berfikir. Maka cobalah sejenak kita berdiam, perhatikan kiri, kanan, sekeliling kita. Dan bertanyalah, sudah benarkah yang kita lakukan selama ini? 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s