Manakah metode yang tepat dalam kaderisasi ( MPAB HMP)?

Tersampainya esensi sangat vital dalam suatu kaderisasi. Bila esensi tidak tersampai, maka pembelajaran bagi peserta kaderisas pun tidak bisa didapat. Dengan begitu maksud dari kaderisasi akan sia-sia. Pertanyaan nya adalah, bagaimana agar esensi tersebut dapat tersampaikan dengan baik?

Ada beberapa pilihan metode. Metode pertama adalah dengan disampaikan secara langsung. Kelebihan dengan metode  ini adalah esensi dapat dipastikan diketahui oleh peserta. Mekanisme kontrol terhadap ketersampaian esensi pun menjadi mudah. Namun kelamahannya adalah tidak ada ruang berfikir bebas bagi peserta. Peserta menjadi tidak punya pilihan untuk memikirkan esensi yang lain dari kegiatan kaderisasi yang dijalaninya. Atau pun jika peserta berinisiatif memikirkan esensinya secara mandiri, namun hasil pemikiran dia akan disalahkan jika berbeda, karena dalam metode ini esensi yang “benar” adalah esensi dari panitia. Hal ini dapat pula berdampak pada mandek nya kreatifitas berfikir serta daya kritis dari peserta karena mereka hanya diminta untuk menerima apa yang diberikan.

Pilihan metode selanjutnya adalah dengan cara ‘tidak memberi tahu esensi’. Asumsi dari metode ini adalah peserta akan memikirkan sendiri esensi dari kegiatan yang dia jalani. Dengan begitu esensi yang bisa didapat tidak terbatasi oleh klaim ‘esensi yang benar’ versi panitia. Peserta akan memiliki kebebasan berfikir. Namun kelemahan dari metode ini bisa vital. Seperti yang saya sebut di atas, metode ini mengasumsikan peserta dapat mencari sendiri esensi dari kegiatan yang dia jalani. Akan sangat berbahaya jika ternyata asumsi ini tidak berjalan, atau dengan kata lain peserta tidak memikirkan esensi dari berbagai kegiatan yang dia jalani. Misal, salah satu kegiatan dalam kaderisasi tersebut adalah dengan pemberian suatu tugas. Dengan metode ini, terdapat peluang yang besar bahwa peserta mengerjakan tugas hanya karena tugas tersebut adalah instruksi dari panitia, dan akan ada konsekuensi jika tidak dilaksanakan, serta akan dapat apresiasi jika dilaksanakan. Bila saya menggunakan bahasa yang sedikir kasar, maka para peserta hanya akan menjadi seperti kerbau yang menuruti majikannya, yang akan diberi rumput jika berkerja dengan baik dan akan dicambuk jika bekerja dengan buruk. Tidak ada esensi yang didapat dari tugas tersebut. Akan lebih sangat berbahaya lagi jika ternyata penitia pengkader tidak memiliki esensi yang esensial dari tugas yang ia berikan, atau dengan kata lain tugas-tugas tersebut hanyalah karena kebiasaan tahun-tahun sebelumnya saja. Oleh karena itu penggunaan metode ini harus sangat berhati-hati dan harus dipikirkan cara khusus bagaimana memastikan peserta benar-benar memahami esensi. Memastikan di sini harus lebih dari sekedar bertanya “apa esensi yang kalian dapatkan”.

Pilihan ketiga adalah dengan melakukan dialektika antara peserta dan panitia sebelum kegiatan dijalankan. Sehingga peserta dituntut berfikir aktif menganai esensi dari kegiatan tersebut, dan mereka menjalankan kegiatan tersebut bukan atas dasar ‘instruksi panitia atau menghindari hukuman atau mengharapkan apresiasi’, tetapi karena paham bahwa yang dia kerjakan itu mengandung esensi. Setelah kegiatan dilakukan pun, mereka dapat diberikan kesempatan untuk memikirkan lagi apakah terdapat esensi lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ilustrasi sederhana nya sebagai berikut. Misal akan diberikan tugas lari di saraga satu angkatan, dengan esensi yang disiapkan oleh panitia adalah agar peserta memiliki tubuh yang bugar sehingga dapat berkegiatan di himpunan dengan prima. Dalam metode ini, peserta tidak serta merta disuruh lari satu angkatan. Tapi sebelumnya dilakukan terlebih dahulu proses dialektika. Proses ini dapat dimulai dengan diberikannya suatu isu yang terkait oleh panitia. Misal, didiskusikan mengenai bagaimana beban bekerja di himpunan nanti. Akhirnya sampai kesimpulan bahwa pekerjaan di himpunan cukup berat. Lalu berlanjut hingga sampai kesimpulan bahwa karena itu dibutuhkan fisik yang prima. Lalu berlanjut lagi hingga sampai kesimpulan dibutuhkan suatu cara meningkatkan kebugaran adalah dengan lari. Sehingga akhirnya lari tersebut menjadi tugas. Proses yang saya gambarkan di sini tentu dengan penyederhanaan yang cukup besar. Namun yang ingin saya gambarkan adalah bahwa dengan proses seperti ini, maka peserta akan lari di saraga karena mereka paham bahwa hal ini dibutuhkan untuk menunjang aktivitas di himpunan kelak. Mereka berlari bukan semata karena disuruh oleh panitia. Dengan  proses dialektika ini juga akan dapat memunculkan esensi lain yang bersumber dari pemikiran peserta yang sebelumnya tidak terfikirkan oleh panitia. Namun kendala nya adalah panitia harus melakukan persiapan yang matang agar proses dialektika yang berlangsung tidak fail, dan karena itu dibutuhkan pula kapasitas panitia yang mumpuni.

Bagaimana dengan HMP?

Saat ini saya belum genap setahun di manjadi anggota biasa HMP, sehingga MPAB yang pernah saya amati hanyalah MPAB tahun lalu dimana saya menjadi pesertanya. Sepengamatan saya, metode yang dominan digunakan dalam MPAB tahun lalu adalah metode yang saya sebutkan kedua. Namun saya menilai belum ada antisipasi yang matang akan asumsi yang tidak berjalan.

Untuk MPAB tahun ini, saya menyarankan agar kita mencoba metode yang terakhir saya sebut, karena  metode tersebut lebih dapat memberikan kesempatan berfikir kreatif dan kritis dari peserta, dan tidak seperti metode yang kedua, lebih dapat dipastikan bahwa hal tersebut berlangsung dengan baik. Meski begitu memang untuk menjalankan metode ini dibutuhkan kerja keras (dan cerdas) yang lebih dari kita semua.

Tapi ini hanyalah tawaran dari saya. Saya sangat jika ada yang memiliki tawaran metode yang lebih baik. Yang penting jangan sampai kita hanya terjebak rutinitas dan budaya yang ada di MPAB selama ini padahal sudah tidak lagi efektif atau tidak esensial. Mari kita renungkan lagi metode apa yang paling tepat dalam mengakader adek-adek kita, dan mari membuat MPAB tahun ini menjadi lebih baik J

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s