Pertentangan antara nurani dan nafsu kekuasaan dalam Rumah Kaca

(Resensi)

Judul               : Rumah Kaca

Pengarang      : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit         : Lentera Dipantara, Jakarta, 2006

Tebal              : 646 halaman

            Rumah Kaca merupakan buku terakhir dalam Tetralogi Buru Pramoedya. Tetralogi Buru merupakan tetralogi dari novel Pramoedya yang dibuatnya semasa dibuang di Pulau Buru oleh pemerintahan Orde Baru tanpa proses pengadilan. Tetralogi ini merupakan salah satu sumbangan terbaik bagi bangsa dan dunia dari Pramoedya Ananta Toer, salah satu sastrawan terbaik yang pernah dimiliki negeri ini.

             Tetralogi Buru bercerita tentang bagaimana seorang pemuda pribumi, Minke, mengalami “pencerahan” dari seorang pribumi yang serba tertinggal hingga menjadi pembesar dalam pergerakan kebangsaan. Dalam buku pertama, Bumi Manusia, Pram menceritakan bagaimana lahirnya perkenalan dunia kehidupan dan pemikiran humanis serta modern eropa di satu sisi, dan  kesadaran nya tentang sisi hitam eropa: kolonialisme. Pada buku selanjutnya, Anak Semua Bangsa, Pram menceritakan bagaimana timbulnya kesadaran Minke untuk melakukan suatu perlawanan terhadap penjajahan, dengan melahirkan organisasi. Dan Pada buku ketiga, Jejak Langkah,  diceritakan bagiamana organisasi buatan Minke dapat berkembang besar beserta berbagai jatuh bangunnya.

            Buku keempat dalam tetralogi ini, Rumah Kaca, menceritakan akhir dari perjalanan kehidupan Minke hingga menemukan ajalnya. Namun uniknya, tidak seperti tiga buku sebelumnya, Rumah Kaca tidak lagi mengambil Minke sebagai pemeran utama sebagai “aku”, tetapi Minke dijadikan objek pengamatan oleh tokoh “aku” lain, Jacques Pangamenan. Pramoedya berhasil menarik hubungan yang menarik antara Minke yang selama ini menjadi sorotan utama, dengan Pangamenan. Hubungan ini berbentuk pengawasan Pangamenan terhadap Minke, karena Pangamenan adalah seroang Manado yang menjadi pembesar kepolisian kolonial yang ditugaskan untuk mengawasi aktivis pergerakan paling berbahaya di Hindia: Raden Mas Minke.

            Latar belakang cerita terjadi saat dunia sedang mengalami gejolak perlawanan terhadapa kolonialisme. Mulai terasa di Hindia anak-gelombang badai yang mengamuk di utara sana. Seorang anak orang kebanyakan, kebetulan seorang dokter, naik panggung menjadi presiden dan pemimpin negeri langit tiongkok: Sun Yat Sen. Dinasti ching Tiongkok sana tumbang. mata sedunia tertuju pada peresiden pertama di tiongkok ini, semua menunggu-nunggu tindakan apa yang di ambil. Gebrakannya yang pertama-tama sudah langsung punya gema internasional. Dia lakukan sesuatu yang orang anggap tidak mungkin: menertipkan gerombolan teror internasional yang bernama thong. Gerombolan yang beroprasi hampir di semua kota pelabuhan di atas muka bumi ini, sampai juga hindia terutama di Surabaya. Dalam menghinpun dana, thong makin gairah menyelundupkan candu bima. Para pecandu dijatah, dengan kualitas konon lebih rendah lagi, dan tidak boleh dikredit seperti di huangkeng. Di jawa ditemukan pula penyelundupan gaya baru: menempuh semua sungai, besar dan kecil, menuju kepinggiran Vorstenlanden

            Di betawi dengan semangat nasionalisme, orang-orang tiongkok peranakan, orang-orang terpelajar mudah, menerbitkan Koran Sin po. Gubernur Jenderal Idenburg lantas mendirikan H.C.S., sekolah hollandsch Chineesche School, sekolah dasar berbahasa belanda untuk anak-anak tionghua, setingkat dengan sekolah dasar belanda E.L.S. alias Europeesche Lagere School. Seorang terpelajar pribumi, bukan saja dipengaruhi, malah jadi pengagum revulusi tiongkok, seorang raden mas, siswa STOVIA, sekolah dokter jawa.dia gandrung menggunakan senjatah ampuh golongan lemah terhadap golongan kuat yang bernama boycoot. Ia bercita-cita membangun nasionalisme Hindia dengan cara-cara yang oleh bangsa-bangsa Hindia dapat dimengerti. Semua itu dapat di pelajari dari tajuk-tajuknya dalam medan, surat kabar yang dipimpinnya sendiri, sekalipun jarang sekali dia secara langsung menyebut-nyebut tionghoa dan tiongkok.

Pribumi pun mulai melakukan pergerakannya melalui media-media yang ada. Pribumi yang lulus E.L.S. bila tidak dapat jabatan negeri, bisa menjadi sumber kericuhan bagi gubermen. H.C.S. didirikan untuk membela masyarakat tionghoa.kaum terpelajar pribumi bukan mengerutu seperti halnya dengan generasi sebelumnya. Mereka menggunakan kejengkelannya dikoran dan majalah-majalah, dengan bahasa-bahasa yang dapat mereka pergunakan. Koran dan majalah-majalah telah melahirkan semangat demokratis tanpa mau gubermen. Wajah hindia memang mulai berubah dengan makin banyaknya percetakan dan pribumi yang bisa baca tulis. Dan dalam hal ini, nama yang satu itu punya saham tidak kecil, malahan saham prioritas. Memang itu orangnya: Minke. Lulusan E.L.S. yang tidak mendapat jabatan negeri, dan menjadi mata dan mulut bangsanya.

Seperti gurunya di utara sana, sun yat sen, Minke sekolah dokter tapi tidak lulus. Sebenarnya kuharapkan orang lain yang akan melakukannya. Dia seorang terpelajar pribumi yang hanya selalu mencintai bangsa dan tanah airnya hindia, mencoba memajukan bangsanya, dan berusaha keadilan ditegakkan didalam masa-masa hidupnya, untuk bangsanya diatas bumi hindia, untuk segala bangsa diatas bumi manusia ini. Dia termasuk golongan manusia yang pada dasarnya baik, tidak jahat.jelas bukan kriminal. Dia selalu berpakaian jawa: destar, baju tutup putih dengan rantai emas arloji tergantung pada saku atas bajunya, berkain batik dengan wiron agak lebar dan berselop kulit. Kulit agak langsat, kumis terpelihara baik, hitam lebat dan terpilin meruncing keatas pada ujung-ujungnya. Langkahnya tegap, diwibawahi perawakan yang kukuh.tingginya agak mendekati 1.65 meter. Beribu-ribu pengikutnya, terdiri dari muslim putih dan terutama abangan dari golongan mardika. Orang memaafkan, melupakan, menutup mata terhadap kekurangannya. Ia lebih mudah bergaul dengan orang eropa dari pada dengan pengikutnya sendiri. Dan ternyata Pangamenan, sang inspektur polisis yang ditugasi menumpas pergerakannya juga mengagumi dirinya.

Ini membuatnya mengalami pergolakan dala batinya, seperti salah satu ungkapan Pangamenan dala percakapan hatinya:

Jangan dikira dengan senang hati kulakukan tugasku. Pertama: kegiatan tidak melanggar hukum. Tetapi setiap gerakan di hindia yang menjururus kearah pemusatan kekuatan, selaku merupakan bahaya bagi gubermen. Kedua: kegiatan raden mas ini adalah wajar bagi pribumi di negeri jajahan manapun, apalagi yang telah berkanalan dengan ilmu pengetahuan eropa. Pemusatan kekuatan ini merupakan pedang democles.

Hal ini membuatnya sadar bahwa perintah untuk menghentikan pergerakan Minke harus dilakukan dengan prosedur di luar hukum.

Upaya dilakukan oleh Pangamenan dengan bekerja sama dengan Robert Suurhof. Uniknya, Shuurhof merupakan kawan Minke selama H.B.S. Kisah ini diceritakan dalam novel Bumi Manusia. Semasa H.B.S dulu, dia seringkali merendahkan Minke karena kepribumiannya. Namun dia memiliki dendam khusus kepada Minke karena ternyata dia pun memiliki rasa cinta kepada Annelise, isteri Minke. Kini Suurhof merupakan kepala gerombolan bersenjata de knijpers alias T.A.I.

Tugas pertama dia adalah memberikan teror kepada Minke tanpa sedikitkpun mencelakakannya. Namun ternyata upayanya gagal, dan bahkan terdengar suara tembakan, padahal Suurhof diperintahkan untuk tidak mencelakakan Minke.

“Kau sudah lewati tugasmu. Kau tembak dia.” Ia menyusul menjawab dengan bisikan “tidak , tuan. Sungguh mati aku tidak menembaknya.” Aku berhenti berjalan . kutatap mukanya , bertanya tak percaya:” dia yang menembak? Dia? Minke?” “bukan, tuan. Istrinya!”  pendekar, empat jagoan tunggang-langgang…huuh! Hanya karena satu perempuan! Memalukan. Dia tidak protes.

 Ternyata isteri Minke merupakan perempuan pendekar pemberani.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, Pangamenan kembali mengunjungi Minke. Tujuannya adalah mencari tahu siapa sebenarnya Minke Sang Pemula ini. Namun, kebesaran jiwa Minke hanya menghasilkan keciutan dalam diri Pangamenan. Dirinya menjadi begitu kerdil dihadapan sang pembela bangsa ini.

Inilah orangnya minke, dari dekat. dia kelihatan gelisah. Memang ada alasan gelisah setelah kunjungan suurhof dan gerombolannya. Orang dikota-kota jawa barat telah mendengar belaka, dalam gerombolan de knijpers aliasT.A.I. terdapat juga seorang manado. Dia tahu, aku menado setidak-tidaknya dari namaku. Dia curiga. Yang hendak kubicarakan dengannya telah kupersiapkan. Pokok pertama: hikayat siti aini karangan haji moeloek, yang dalam waktu pendek telah jadi buah bibir di jawa. Aku mulai bicara tentang hikayat itu. Ia tetap waspada dalam kecurigaannya. Aku harus ganti pokok pembicaraan secepat mungkin dan menawarkan padanya sebuah naskah nak-sanakku berjudul si pitung. Ia tanggapi tawaran itu dengan karamahan yang di buat-buat. Rupanya aku kurang pandai bersandiwara, bermuka dua. Dia lebih konsekwen. Bermuka tunggal sebagai manusia. Aku bicara tentang de knijpers. Setelah keceplosan aku keceplosan lagi dengan cerita T.A.I. kemudian tentang de zweep. Dia hanya berkomentar pendek “ sangat menarik.” Percakapan seperti ini tidak bisa diteruskan . hanya akan membuat aku kebinggungan dan  membungkuk-bungkuk aku minta diri. Di hotel “ enkkuizen” aku renungkan kembali hasil pekerjaanku. Kesimpulannya  sangat sederhana: seperti suurhof aku juga lari tungang langang. Dihotel ini juga kubulatkan tekad: harus kubantu orang yang berhati dan berkemauan baik untuk pribumi bangsanya itu.

 

            Upaya Pangamenan untuk menghentikan pergerakan Minke melalui gerombolan T.A.I. pimpinan Robert Suurhof ternyata mengalami kegagalan. Sep Pangamenan, Donald Nicolson, menunjukan grafik bahwa setiap terjadi tindakan penganiayaan terhadap Minke, anggota Sarekat Dagang Islam (S.D.I.) justru mengalami peningkatan jumlah anggoat yang signifikan. Sep nya mendorong agar Pangamenan mengambil tindakan yang lebih terhadap Minke. Pangamenan menemui Tuan L, seorang ahli kolonial, untuk mendapatkan informasi mengenai cara pemberantasan pergerakan pribumi. Kesimpulan yang didapat: Organisasi pribumi masih belum tumbuh dengan cara modern, tetapi masih dengan cara yang tradisional yakni bergantung kepada kepala nya. Sehingga satu-satunya cara untuk menghentikan pergerakan mereka adalah dengan cara melenyapkan pemimpin-pemimpin mereka. Jadi begitu Raden Mas Minke tiada, maka organisasinya akan buyar. “Demi karierku, minke, pimpinan redaksi medan harus disingkirkan.” , ujar Pangamenan dalam batinnya. Ternyata batinnya lebih dikontrol oleh keteakutannya akan kehilangan berbagai kekuasaan dan kenikmatan duniawi dari pada menuruti kata nurani, “…aku masih mengingini keselamatan keanggotaanku, bahkan jaminan pension beberapa tahun mendatang, mungkin sepuluh, mungkin tujuh tahun lagi.” Dia pun menyusun rencana kembali untuk menyingkirkan Minke, pemimpin redaksi Medan yang meresahkan Gubermen.

Suurhof bebas, ia akan melapor kepadaku di kwitang di rumah rientje de roo, ia pelacur muda, cantik yang banyak menggegerkan pemuda betawi dengan tarif tertinggi. Rumah itu di sebuah pavilyun, di daerah kwitang yang tenang. Rientje de roo mempersilahkan masuk. “tuan pengemanan,” tegurnya manis dan mempersembahkan kemolekannya untuk dicicipi. Pada waktu itu pintu depan diketuk orang. Kubuka pintu: suurhof berdiri di hadapanku, tanpa kumis, tanpa jenggot, kemeja sutra putih dan bercelana kelabu bergaris-garis hitam. “Maafkan aku agak terlambat, tuan pengemanan.” ucap suurhof. Dengan membubungkan sebuah fragmen  La Traviata  membumbung pula tawa bahak hatiku : kami bertiga sungguh pemain sandiwara terburuk di dunia. Kita bertemu bukan untuk mengagumi phonograp baru itu”kataku menegur.” Ia mematikan phonograp dan dengan langkah indah meninggalkan ruangan dari pintu depan. Aku tinggalkan uang sesuai dengan tarifnya dan pergi tanpa minta diri. Baru beberapa langkah menuruni jalan raya suurhof sudah berada dibelakangku. Kau masih sanggup menjalankan perintah? “ucapku”. Setiap waktu, tuan.”jawab suurhof”. Aku perintahkan pada tanggal dan jam tertentu ia harus mengikuti aku dari kejauhan di bandung. Dia dan anak buahnya harus mengenakan warna pakaian yang kelak akan kutentukan. Aku ceritakan padanya, aku sedang mengincar sasaranku minke. Aku akan berusaha omong-omong dengannya. Bila kami sudah siap, ia dan anak buahnya harus menghabisinya tanpa menggunakannya senjata api, tajam atau tumpul. Harus dengan tangan telanjang. Minke harus disingkirkan dengan jalan lain tanpa pembunuhan “pikirku”. Pada prinses kasiruta aku kirimi surat palsu pada waktu suaminya meninggalkan buitenzorg menuju bandung. Kegarangan, kesetiaan wanita itu pada suaminya, harus dapat menyelamatkan suaminya dari perbuatan robert suurhof dan teman-temannya. Dengan demikian minke tidak boleh mati dengan rencanaku semula.. Pada hari yang di tentukan telah kulihat prinses kasiruta sudah sampai ditempat yang ditentukan dengan surat kaleng. Segera ia melihat orang-orang dalam warna pakaian sebagaimana tertera dalam surat. Dengan tenang ia mengikuti dan melindungi wajahnya dengan payung hitam. Mata-mata polisi telah menunjukkan aku di mana minke berada. Minke nampaknya curiga. Ia sangat waspada dan  ingin segera menghindari aku. Begitu terdengar tembakan, ia sudah lupakan aku sama sekali, lantas hilang dari penglihatanku. Suurhof dan teman-temannya sudah menjelemah ditanah. Sudah dapat kubayangkan sebelumnya, itulah yang bakal terjadi. Tetapi ada sebilah pisau merobohkan anak buah suurhof? Ini tak pernah kuduga sama sekali. Suurhof ternyata tidak mati, sekalipun tangannya sebelah akan menjadi invalid selama-lamanya. Aku dan sang komandan sudah sepakat tanpa bikin janji: sebaiknya suurhof mati. Di antara anggota kepolisian sendiri rupa-rupanya hanya aku yang terlibat pada pekerjaan terkutuk ini.

            Setelah lagi-lagi mengalami kegagalan, akhirnya gubermen melakukan tindakan yang  keras: membuang Minke ke Ambon. Dan Pangamenan, diminta memberikan tanda tangan sebagai persetujuan intelektualnya. Kembali, Pangamenan menyerah kepada nafsu kekuasaan dalam dirinya. Dia membuang segala prinsip nurani nya dan menyetujui pembuangan tersebut.

Hidup macam apa begini ini? Tetapi demi jabatan, dan berbagai demi, aku berangkat juga ke buitenzorg. Ku ambil satu regu polisi setempat, dan melakukan penangkapan. Minke bersikap tenang seakan tak terjadi sesuatu. Dalam mengantarkannya ke pembuangan di ambon, aku diharuskan tidur satu kabin dengannya. Harus ku ikuti kemana saja ia pergi. Aku tak boleh tidur, dan harus bangun sebelum ia bangun. Aku ikut mengantar minke memasuki rumahnya yang baru dijalan menteng dikota ambon. Sebelum pulang ke betawi masih kucoba mengucapkan sepatah dua patah yang keluar dari hati-sanubariku.

 

Hati Pangamenan semakin membusuk. Dirinya menjadi begitu rendah dihadapan Minke. Bahkan, tidak muncul sedikit pun rasa takut dalam diri Minke prihal pembuangannya ini. Dan ini membuat Pangamenenan merasa semakin rendah.

            Setelah kepergian Minke, Pangamenan mendapatkan berbagai tugas pemberantasan pergerakan pribumi. Salah satu tugas yang diberikan adalah menghentikan pergerakan pemberontakan tradisional pribumi yang dipimpin oleh si Pitung. Dengan lancar dia berhasil memberantas pergerakan si Pitung.

Dari kriminal di meja tulis aku pindah ke lapangan. Begitulah aku berangkat membawah sepasukan gabungan polisi-lapangan betawi dan buitenzorg, dengan kekuatan mendekati enam puluh orang. Di daerah sisa gerombolan si pitung berkuasa sudah tidak ada hukum lagi, tak ada pemerintahan. Yang ada hanya teror, ketakutan, pembunuhan, penculikan, penganiayaan. Tuan-tuan tanah inggris, tionghua dan belanda bersama keluarga, sebelumnya telah melarikan diri dan mengungsi ke batavia atau buitenzorg. Dimana-mana perlawanan gerombolan dapat dipatahkan. Bila mau memasuki kampung dua tiga kali tembakan ke udara telah membikin kampung itu sunyi-senyap. Orang pada berlarian menyembunyikan diri. Hanya anggota-anggota gerombolan yang tidak sembunyi di dalam rumah. Mereka memusatkan diri dibalik rumpun bambu. Tiga ratus tahanan merupakan bukti suksesku memang hampir tidak ada keterangan yang bisa diperas dari mereka. Untuk mengetahui siapa-siapa pimpinan tidaklah sulit sekalipun mereka bungkam. Barang siapa tidak takut pada amangan bayonet, itulah dia pimpinan, si kebal. Di antara tiga ratus sekian tangkapan, delapan orang sungguh-sungguh kebal. Setiap orang kebal mempunyai sekian banyak istri, sah maupun tidak sah. Dan istri-istri itu menjadi sumber keterangan agak wajar. Salah seorang diantaranya adalah nyi juju. Dalam pemeriksaan atas perempuan-perempuan ini terungkap orang-orang eropa dengan centeng-centang mereka telah melakukan perampasan-perampasan harta benda, kehormatan, menarik pajak berlebihan, menganiaya, membunuh  tanpa ada pengusutan pada pihak yang berkuasa. Semestinya polisi bertindak terhadap kewenangan tuan-tuan asing dan kaki tangannya, sebelum muncul perlawanan gerombolan si pitung. Aku pulang ke betawi dengan kemenangan gilang-gemilang atas orang-orang desa yang merindukan kehidupan sejaterah, membawah keharuman bagi polisi lapangan, membawa kesadaran akan adanya politik putih yang selalu merugikan penduduk dan aku pulang membawa pergumulan batin yang belum yakin mana yang benar. Aku susun laporan lengkap, dengan harapan dapat menggeser tanggung jawab dan gugatan nurani pada kekuasaan yang menugaskan padaku.

Ternyata keberhasilan tersebut semakin menutup nuraninya. Dia sadar bahwa apa yang dilakukan si Pitung adalah sebuah kebenaran. Si Pitung melakukan pemberontakan karena kejahatan sesungguhnya yang dilakukan oleh gubermen, dan gubermen sesungguhnya sumber kejahatan sebenarnya. Namun atas dasar memberantas “kebenaran” ini dia mendapatkan promosi jabatan menjadi Komisaris Kepolisian.  Juga hal tersebut dibayar mahal dengan datangnya bayangan si Pitung yang terus menghantui Pangamenan, membuat sakit sisa-sisa nuraninya yang telah takluk oleh nafsu.

            Hari-hari dia jalani dengan terus mempelajari berbagai pergerakan yang dilakuakan oleh pribumi. Selama tiga bulan dia mempelajari keumungkinan kebangkitan kam pribumi untuk mendapatkan kemerdekaan. Beberapa tahun sebelumnya bangsa Filipina berhasil melakukan nya, dan ternyata berita ini disembunyikan dari rakyat Hindia agar tidak memicu pergerakan yang lebih keras. Satu pelajaran yang menarik yang dipetik selama pencarian ini adalah, ucapan dari seorang ahli kolonial,Tuan L: Suatu bangsa akan membuang prinsip nya saat bertemu dengan bangsa yang lebih berprinsip. Di sini, Pramoedya secara tidak langsung mengingatkan kita sebagai bangsa untuk berpegang teguh pada prinsip yang kita miliki. Karena tanpanya kia hanya terontang-anting menginkuti berbagai prinsip-prinsip dari bangsa lain yang lebih teguh memegang prinsip nya. Gejala tersebut sudah mulai dapat kita lihat saat banyak masyarakat kita yang meniru bulat-bulat berbagai alam berfikir barat, atau kini yang cukup ngetren adalah para pemuda-pemudi yang begitu memuja kebudayaan Korea. 

            Suatu waktu, saat Pangamenan masih sibuk mencari berbagai informasi tentang kemungkinan kebangkitan pergerakan kaum pribumi, datang sepucuk surat. Isinya: Pangamenan diterima sebagai anggota Agemanee Secretarie, suatu jabatan yang hampir mustahil didapatkan oleh pribumi, namun dia mendapatkannya. Dia terus mencari-cari informasi tentang pergerakan kemerdekaan, dan mencari cara untuk mengakalinya. Dia memantau Marko, mantan anak buah Minke yang mulai merintis gerakannya sendiri. Marko, yang mengganti nama menjadi Marco, hanya seorang lulusan sekolah dasar, namun pendidikan nya yang rendah tersebut membuatnya mudah mendapatkan simpati dari kalangan rakyat bawah. Juga dengan kedatangan Sneevlet, seorang eropa yang membawa aliran pemikiran baru ke bumi Hindia. Dia yang membawa alam pemikiran kaum kiri, dan dengan pesat dapat mengembangkan pengaruhnya di Hindia.

            Seorang kaum pergerakan yang paling menimbulkan permasalahan bagi Pangamenan ternyata datang dari seorang wanita: Siti Soendari. Dia wanita cerdas modern yang selalu menjadi salah satu pemimpin dalam pergerakan. Pangamenan meneliti tulisan-tulisannya, begitu tajam dan intelek, namun tetap memancarkan aura kelembutan seorang wanita. Namun satu hal yang pasti terlihat dari tulisan-tulisan nya adalah: kebencian terhadap kolonialisme. Siti Soendari juga terus mengobarkan semangat perlawanan  melalui orasi-orasinya, yang selalu disambut dengan sorak gemurai pada akhir orasi oleh para pendkungnya.

            Aktivitas Siti Soendari yang semakin merisaukan gubermen membuat Pangamenan harus melakukan upaya yang lebih keras untuk menghentikan nya. Akhirnya, dipilih cara yang sama dilakukan terhadap Gadis Jepara, Kartini, beberapa tahun yang lalu: Siti Soendari diapksa untuk kawin. Mengawinkan merupakan cara paling ampuh untuk menghentikan pergerakan seorang gadis Jawa, karena dengan nya dia harus mengabdikan diri sepenuh nya kepada sang suami. Sang Ayah Siti Soendari diberi ancaman, mengawinkan putrinya atau dia akan kehilangan segala jabatan yang saat ini diberikan oleh gubermen secara tidak hormat. Kembali, cara busuk mengambilan kebebasan seorang wanita terjadi di bumi Hindia.

Semua yang dilakuakan Pengamenan di Algemanee Secretarie terus membuat  perdebatan nurani nya semakin menajadi-jadi. Bayangan si Pitung terus menghantui membawa rasa bersalah, dan rasa kecut akan kehilangan kekuasaan membawanya terus membawa pembenaran. Bahkan ternyata, orang yang duduk pada posisi nya saat ini, mati bunuh diri pada ruang kerja nya yang dingin, persis  tiga hari sebelum Pangamenan ditunjuk sebagai  penggantinya. Namun tetap saja, nafsu duniawi yang menang mengalahkan nurani yang bersih:

   Kuraih lagi botol itu. Kosong. Kuraih gelas susu. Kosong. Frits, oh frits, ambilkan aku sebotol lagi. Dia tak kunjung datang. Kertas-kertas itu kubaca terus. Jelas semua pembukuan dilaksanakan oleh sebuah komisi. Dan ketua komisi itu De Lange, tuan Mr.De Lange, yang beberapa hari yang lalu, ada seminggu? Menggeletak dengan darah yang keluar dari pori-pori mulutnya di samping mejaku ini. Mengapa, kau De Lange? Tak tahan di gerogoti nuran?

Aku teliti lagi surat-surat itu. Aku perhatikan tandatangan tenaga ahli yang aku gantikan itu. Beberapa di antara tandatangannya seakan gemetar, dia tahu, seluruh ilmu hukum yang di pelajarinya di Universitas lebur jadi debu menghadapi pelaksanaan ini. Karena itulah kau bunuh diri De Lange? Goblok. Kau lebih berpihak pada nurani mu daripada nyawamu. Goblok. Dering bel tutup kantor terdengar. Berkas itu kumasukkan dan kunci dalam lemari. Jendela aku kunci sendiri, kemudian juga pintu. Anak kunci aku kantongi dan aku bawah pulang sesuai dengan peraturan.

           

            Gangguna jiwa nya yang disebabkan oleh bayangan si Pitung terus menjadi-jadi, pikiran nya kacau, namun tetap begitu lemah dan kecut untuk melawan nafsu. Hubungan nya dengan isteri dan anak-anaknya pun semakin renggang, hingga akhirnya sang istri meminta cerai. Pangamenan semakin menggila. Dia menjadikan pelesiran sebagai pelarian dari berbagai masalah tersebut. Dia menyewa Rienjte de Roo, pelacur terbaik di Betawi. Namun ternyata pada akhirnya hanya membawa sial saja, Rienjte de Roo mati. Dia meninggalka sebuah catatan merah, yang ternyata pada isisnya terdapat tulisan mengenai hubungan antara dirinya dan Pangamenan.

Seorang agen polisi yang bernama Sarimin datang kerumah Pangemanann dan memberitahukan kalau tamunya (Rientje De Roo) tidak jadi datang karena dia sudah meninggal, lantas Pangemanann bergidik mendengar berita itu, “dia meninggal dengan meninggalkan buku merah Tuan” kata Sarimin. “Buku itu menyangkut nama Tuan juga”

Pangemanann langsung maengambil kesimpulan kalau agen polisi ini datang kemari untuk memeras dia karena namanya disebut-sebut dalam buku catatan Rientje De Rood dan kalau sampai umum tau kekuasaan dan jabatannya akan hilang karena namany sudah tercemar. Dan benar saja dugaannya Sarimin datang kerumah Pngemanann untuk memeras dia, dan itu sudah cukup buat Pangemanann bingung kepayang

Hubungan nya dengan Rienjte de Roo hanya menyisakan pemerasan oleh seorang agen polisis picik.

            Gubernur Jenderal Hindia Belanda kini berganti. Masa jabatan Gubernur Jenderal Idenburg berakhir, diganti oleh Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum. Tidak seperti pendahulunya yang begitu sering menggunakan hak-hak exorbitant yang dimilikinya, Stirum lebih kalem dalam menghadapi gejolak yang ada.

Pada hari-hari pertama dalam jabatannya, Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum nampaknya tak ada keinginan untuk mengetahui semua itu. Staf Algemeene Secretarie menjadi tegang. Keadaan diluar istana semakin bergejolak. Organisasi-organisasi pendukung Gubermen kehilangan Inisaitif untuk berosensif terhadap mereka. Kami menduga, Tuan Besar tidak mempunyai perhatian terhadap segala yang sedang berkecamuk. Bila demikian halnya, mungkin Algemeene Secretarie harus mempunyai inisiatif yang lebih banyak.

            Seminggu lamanya Tuan Besar belum juga meneemui umum. Dari jongos-jongos didapat berita, bahwa Gubernur Jenderal dan istri masih sibuk menata prabot. Seminggu! Dan diluar sana para administratur perkebunan dan perusahaan-perusahaan Eropa lainnya sudah pada gelisah. Mereka mengharapkan kebijaksanaan baru yang tegas, dank eras terhadap perkembangan.

            Sembilan hari setelah kedatangannya baru baru Direktur Tuan Pabbgemanann mendapat pangilan. Tak lama kemudian Tuan Besar datang kekantornya dalam iringannya berikut para ajudan. Ia melakukan pemeriksaan ke semua ruang kerja. Ia kelihatan tidak begitu angker, banyak senyum, kurang kata-kata. Pandang matanya tenang, tapi kepalanya yang agak botak sering mengangguk, jarang menggeleng.

 

Sikapnya yang terlalu “santai”merisaukan banyak pihak, namun Stirum punya keyakinan lain: menghentikan pergerakan tidak bisa dilakukan dengan cara keras. Semakin keras dihadapi, semakin kuat semangat perjuangan mereka. Hadapilah pergerakan tersebut dengan cara-cara yang halus, yang akan melemahkan perjuangan mereka. Namun dia tetap teguh pada pendiriannya.

…“setiap orang Eropa yang mempunyai harga diri akan berlaku sama. Aku pikir Tuan Idenburg dulu tak pernah benar bertindak sekeras itu tindakan itu akan membikin dia menjadi lebih keras.”

            Tuan Besar Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum memang menganggap bahwa penggunaan hak-hak exorbitant secara gampang adalah bukan saja tidak patut juga imoril. Biarpun begitu Pangemanann kira tidak tepat kalau mengecam pendahulunya, karena masa pemerintahannya tidak sama dengan sebelumnya. Perang dunia memang mengubah banyak bobot dalam kehidupan di Hindia sekarang. Baiklah. Barangkali mulai sekarang Gubermen akan tetap berpegangan pada keputusan pengadilan.

            Minke kembali dari tanah pembuangan. Dan Pangamenan menjempunya, mengantarnya berkeliling ke tempat-tempat yang memiliki kenangan memeori bagi Minke. Dan Pangamenan, satu-sastnya pribumi yang mampu menempati jabatan tinggi di Aglomenee Secretarie, badan yang dapat dikatakan paling berkuasa di Hindia Belanda; kembali menjadi begitu kerdil dihadapan Raden Mas Minke, seorang buangan, yang tidak punya sesen pun harta, kecuali harga diri dan nurani perjuangan.

            Ketiadaan sedikitpun aset membuat Minke tidak mampu membnagun lagi pergerakannya. Dia bahkan tidak memiliki cukup uang untuk mengirim telegram ke teman-teman seperuangannya. Dia begitu sedih saat mengetahui nasib anak kandungnya, organisasi S.D.I yang dia bangun dari nol, ternyata kini hancur terbelah-belah.

            Hingga akhirnya dia jatuh sakit, dan mengakhiri hidup nya dalam kesendirian. Orang yang memulai pergerakan kemerdekaan ini, Sang Pemula, Minke alias Tirto Adhi Soeryo, meninggalkan dunia tanpa ditemani kaum pergerakan lain yang sesungguhnya lahir atas inisiasi nya dahulu. Tidak ada kebesaran dan kemegahan. Dan dikejauhan sana, seorang yang telah masuk dalam kehidupannya hingga dapat mengetahui kecepatan detak jantung nya, yang dengan segala kuasa tangan gubermen mengendalikan akhir hidup nya, diam-diam menemani nya di akhir hayat Sang Pemula. Dan hingga akhir hayatnya, dia tetap menghormati Raden Mas Minke, tanpa pernah sedikitpun luntur. Namun dirinya tetap saja tak berdaya oleh nafsu kekuasaan yang membinasakan.

        Pangemanann menyadari sesungguhnya dia telah berkembang jadi seorang yang sadis. Dan betapa mahalnya orang menjadi sadis, tanpa menyesali perbuatannya sendiri ini. Bahkan merasa mendapat kehormatan dapat menganiayanya seperti ini. Dan menjadi sadis di Hindia ini bisa saja selama ia jadi pembesar. Yang tidak boleh dan yang dihukum adalah mereka yang tidak mempunyai kekuasaan. Dengan menganiayanya begini rupa dia merasa menjadi semakin penting dan berbobot dan dia semakin jijik pada dirinya sendiri.

 

            Pangamenan pun jatuh sakit, namun di akhir hayatnya dia terus menyelesaikan buku catatan hidupnya: Rumah Kaca. Dia mati dalam kerendahan diri, dalam perasaan hina, dan sama seperti guru nya, Sang Pemula, mati dalam kesendirian. 

Deposuit Potentes de Sade et Exaltavat Humiles.”

(Dia rendahkan Mereka Yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina).

 

            Itulah akhir cerita Rumah Kaca, yang menggambarkan kisah hidup dua insan pribumi yang begitu berbeda. Yang satu bergerak berdasarkan nurani nya, dan menjadi pemula bagi kebangkitan bangsanya. Sedangakan yang satunya lagi hidup dalam genggaman nafsu kekuasaan, yang terus memberinya pembenaran atas berbagai perbuatan hina, dan justru berupaya menghentikan kebangkitan bangsanya atas dasar rasa takut kehilangan berbagai kebesarannya. Kita tinggal memilih, tapi yang pasti, pada akhirnya pun kita akan mati dalam kesendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s