Membela “Civilization” Kita

Kemarin saya mendapatkan sebuah pesan online dari seorang senior:

Mohon bantuan sebar. Salam Perjuangan. Krisis mesir dewasa ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk menyikapinya.. tragedi kemanusiaan ini harus dihentikan. Mari bergerak kawan. Undangan kepada seluruh gerakan mahasiswa. KAMMI, FSLDK, BEM, HMI, PMII, GMNI, dan yang lainnya dalam aksi mengutuk tragedi kemanusiaan mesir pada hari selasa besok. Kumpul jam 8 pagi di halaman masjid pusdai’.. full atribut grakn mhsswa..

Siang ini saya berdiskusi dengan seorang kawan dalam pesan online mengenai hal tersebut. Dia mengutuk keikutsertaan organisasi kampusnya, yang juga kampus saya, dalam gerakan ini, meski pada saya  tidak tahu apakah pada akhirnya organisasi kampus kami ikut serta atau tidak. Inti argumen kawan saya tersebut adalah, tidak ada gunanya kita berdemonstrasi ke kedubes negara lain, atau membela kelompok tertentu, atau membela atas nama demokrasi di negara lain, karena toh tidak akan ada gunanya bagi negara kita.

Bila dipikirkan, apa yang dia katakan memang benar. Ber-demo mengurus negara orang sungguh buang-buang waktu bila dilihat dari sudut pandang manfaat yang bisa didapat oleh negara kita. Dari pada mengurus karut marutnya proses demokrasi di Mesir, lebih baik kita urus terlebih dahulu Pemilukada yang tidak kalah karut marut nya diberbagai daerah. Bukan kah begitu? Tapi bila tidak ada manfaat bagi Indonesia, lantas mengapa mereka mau melakukan pergerakan itu?

Jawabannya saya temukan dalam buku yang saat ini sedang saya baca: The Clash of Civilization and the Remarking of World Order karya Samuel Huntington. Dalam tesis nya, Huntington menjelaskan bahwa dunia saat ini, dunia pasca perang dingin, tidak lagi terbagi menjadi timur dan barat yang saling bersekutu, namun terbagi ke dalam berbagai civilization (saya belum tahu padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, mungkin bisa kita sebut peradaban).  Apa itu civilization yang dimaksud? Penjelasan nya sebagai berikut. Civilization adalah kelompok terbesar yang dibentuk oleh masyarakat dunia. Jadi misal, saya adalah seorang suku Sikumbang, dan Sikumbang ini merupakan bagian dari kelompok lebih besar lagi yaitu suku bangsa Minangkabau. Minangkabau merupakan bagaian dari kelompok lebih besar lagi yaitu bangsa Indonesia. Nah, Indonesia ini masuk ke dalam kelompok lebih besar lagi yaitu kelompok civilization Islam (ini penggolongan menurut Huntington, mungkin mengacu pada mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam). Dan Islam ini bukan merupakan bagian dari kelompok yang lebih besar lagi, sehingga ia dalam penggolongan ini disebut dengan civilization. Huntington membagi dunia menjadi delapan civilization: Islam, Barat, Amerika Latin, Orthodox, Jepang, Sinic, Afrika, dan Budha.

Kembali ke masalah Mesir. Bila saya mencoba menganalisis, saya melihat kejadian pergerakan mahasiswa Indonesia yang mengurus masalah Mesir ini dapat menjadi salah satu pembenaran dari tesis Huntington. Indonesia dan Mesir meruapakan bagian dari civilization yang sama, yaitu Islam (saya tidak bermaksud mengeneralisir semua warga Indonesia masuk ke dalamnya). Oleh karena itu para pemuda tersebut memiliki rasa solidaritas atau keterikatan dengan apa yang terjadi di Mesir sana, yang dalam civilization Islam terwujud dalam ukhuwah islamiyah. Sehingga mereka rela melakukan pergerakan seperti itu yang mungkin memang tidak berguna bagi Indonesia, namun dapat berguna bagi Mesir, sehingga dengan kata lain berguna bagi civilization Islam. Oleh karena itu timbul nya pergerakan “mengurus negara orang” seperti itu wajar karena mereka memang tidak sedang berjuang untuk negara kita, tapi berjuang untuk ‘civilization kita’.

Tapi memang, penggolongan yang dilakukan Huntington penuh dengan generalisasi karena memang harus demikian. Jadi tentu saja ada pula bagian dari warga negara Indonesia yang tidak merasa bagian dari civilization Islam. Dan saya rasa kawan saya yang mengutuk pergerakan ini merupakan salah satu dari yang merasa bukan bagian dari civilization ini. Sehingga dia menganggap gerakan “membela civilization Islam” ini hanya buang-buang waktu belaka, dan sikap nya pun saya pikir tidak dapat disalahkan.

Btw, bagaimana dengan sikap saya? Saya tentu merasa bagian dari civilization Islam, tapi jangan langsung mengecap saya sebagai orang IM ya :p

 

nb: buku The Clash of Civilization itu sangat recomended buat dibaca, memberikan kita sudut pandang menarik dalam melihat permasalahan di dunia Internasional hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s