Perasaan dan Pikiran (lagi), harapan dan menyerah

Mereka bilang kini aku terlalu mengikuti perasaan. Katanya aku kehilangan daya pikir ku. Aku tidak lagi seperti diriku yang selalu menggunakan pikiran ku dalam apapun. Mereka bilang aku telah dikuasai perasaan.

Tapi aku bilang, inilah aku, yang memang juga menggunakan perasaan di samping pikiran. Dan bukankah aku sudah pernah bilang ke kalian? Bila hanya menggunakan pikiran, maka kau akan jadi makhluk pintar namun kejam tak berhati. Tapi bila hanya menggunakan perasaan, kau hanya akan jadi makhluk bodoh yang baik hati. Karena itulah Tuhan menciptakan pikiran bersama perasaan: agar kita jadi bijaksana.

Aku tidak mau memaksa kamu percaya, tapi ketahuilah keputusanku adalah hasil dialektika pikiran dan perasaan. Dan menurut pikiran dan perasaan ku, inilah yang terbaik. Namun aku tidak pernah tahu apakah ini akan jadi yang terbaik selamanya, karena pikiran dan perasaan ku sama-sama tidak dapat mengetahui masa depan.

Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan masa depan, karena Tuhan mengaruniakan kita harapan. Ia adalah sumber kekuatan kita untuk hidup di saat ini meski dihantui ketidakpastian masa depan. Dan sepertinya aku mulai mengerti esensi dari takdir. Bahwa sesungguhnya kita tidak berdaya sekecil apapun juga tentang masa depan. Karena itu aku menyiapkan diri untuk menyerah kepada takdir saat waktunya tiba. Bila ternyata masa depan berjalan berlainan dengan harapan. Dengan begitu kita akan hidup dalam ketenangan, dan mungkin bahagia? 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s