Kekelliruan Mindset Mereka

Aku memainkan sedotan jus tomat ku, minuman yang saat aku kecil dulu sering dibuatkan oleh bunda ku, sembari mempertimbangkan untuk mengatakan sesuatu. Sedangkan tatapanmu entah kemana. Cangkir kopi itu kamu biarkarkan begitu saja.

“Aku pikir mindset mereka salah besar”. Yang dimaksud mereka adalah para pemegang kekuasaan di pemerintahan terpusat organisasi kami.

“Oh iya? Apanya yang salah?”. Kamu menatap ku.

“Ya begitulah”, sembari membuang tatapan.

Kamu terlihat kesal dengan jawabanku yang menggantung.

Segera aku menambahkan. “Begini. Mereka kesalahan terbesar mereka, dan ini juga yang terus dilakuakan semenjak pendahulu-pendahulunya, adalah mindset bahwa mereka memiliki power yang besar.”

“Maksudnya? Bukankah mereka memerintah di tingkat pusat dan bukankah berarti mereka pemilik power terbesar?”

Aku meminum jus tomat ku. “Salah besar. Sistem yang kita gunakan di organisasi kita memberikan kekuasaan terbesar kepada pemerintah wilayah. Lihatlah, pemerintah wilayah dapat melakukan apa saja tanpa peduli dengan apa kata pemerintah pusat. Pemerintah wilayah dapat mengabaikan begitu saja berbagai himbauan dari pusat. Dan lihatlah, pusat hanya dapat menghimbau, karena dalam sistem ini mereka tidak diberikan power yang lebih dari itu. Tapi kebalikannya, pemerintah pusat tidak dapat melakukan sesuatu kecuali dengan persetujuan dari wilayah”

Kamu menatap aku.

 “Dan, setiap wilayah memiliki ‘konstitusi’ nya sendiri, yang mereka gunakan sebagai dasar atas berbagai aktivitas mereka”

“Mirip seperti di Amerika, setiap negara bagian memiliki konstitusi”, katamu.

“Iya. Sistem kita memang sangat federal. Atau gampangnya, kekuasaan di organisasi kita sangat-sangat terdesentralisasi. Namun masalah muncul saat mindset orang-orang terpusat masih sangat sentralistik. Lalu mereka mengadakan kegiatan-kegiatan yang sangat sentralistik pula. Seakan mereka punya cukup power, seakan mereka punya banyak SDM. Saat mereka tidak mendapatkan dukungan dari wilayah, mereka kesulitan. Dan mindset seperti ini membuat mereka selalu dalam kesulitan. Pada akhirnya, mereka hanya mengutuk sistem yang mereka anggap sangat menyulitkan”

“Tapi bukankah memang sistemnya sangat menyulitkan?”

“Itu benar bila mindset kita masih sentralistik. Tapi tren yang terjadi saat ini adalah penyebaran kekuasaan ke daerah. Mengapa? Karena secara empiris terlihat bahwa penumpukan kekuasaan di pusat membawa dampak yang sangat buruk. Karena pemerintah wilayah lah yang paling mengerti apa yang dibutuhkan oleh warga di wilayahnya. Namun orang-orang di pusat tentu tidak semudah itu mau melepaskan kekuasaan yang pernah mereka miliki dahulu. Hingga itu tertanam dalam di dasar otak mereka: bahwa mereka adalah pemilik power terbesar. Jadi mereka berfikir akan lebih mudah bila mereka semua yang mengatur. Padahal dengan kekuasaan diberikan ke wilayah, itu akan sangat memudahkan bagi pusat”

“Kalau begitu buat apa ada pemerintahan terpusat?”

“Hubungan dengan pihak luar atau urusan eksternal lain, anggaran, pengsinergisan, kerja sama antar wilayah, dan masih banyak hal lainnya. Intinya, pemerintah terpusat ada untuk menjalankan peran yang tidak dapat dilakukan sendiri oleh wilayah, atau yang akan menimbulkan konflik antar wilayah jika tidak ada yang mengatur, disamping sebagai simbol pemersatu. Jadi seharusnya mereka jangan mengambil peran yang sudah dipegang oleh wilayah. Buat apa pemerintah terpusat membuat suatu program sosial kemasyarakatan bila itu sudah dilakukan oleh wilayah?”

“Tapi bagaimana jika pusat sudah menjalankan perannya dengan benar, namun para pemerintah wilayahnya terus ngeyel? Sedangkan pusat hanya dapat menghimbau saja. Bukankah berarti sistemnya memang tidak efektif?”

Aku meminum lagi jus tomat ku, kali ini hingga habis. Aku jadi sedikit gelisah karena tidak ada lagi yang dapat aku permainkan. Berfikir.

“Di situ mungkin letak ketidakidealan sistem kita. Kita tidak memiliki sistem kontrol atau penegakan hukum yang jelas. Tapi mau sampai kapan kita hanya mengutuk sistem? Tidak akan ada perubahan, kecuali untuk jangka panjang, bahkan sangat panjang. Bila mau berfikir lebih kreatif, kita bisa cari jalan keluar tanpa perlu mengutuk untuk mengubah sistem. Misal dengan pendekatan insentif-disinsentif. Buatlah program-program yang membuat wilayah mendapat insentif bila mereka ikut serta, dan disinsentif jika mereka ngeyel. Dengan begitu tanpa paksaan, mereka akan berpartisipasi dengan sendirinya. Tapi pemikiran-pemikiran semacam ini akan muncul hanya jika kita mau menghilangkan mindset sentralistik kita, mindset bahwa pemerintah terpusat adalah pememilik power terbesar.”

“ooh.” Jawab kamu singkat. Sorot matamu mulai menunjukkan ketidaktertarikan akan pembahasan ini.

Lalu aku berfikir, berusaha mencari topik lain yang kira-kira menarik bagi kamu untuk dibahas.

“Kamu kebanyakan mikir.” Katamu, sambil tersenyum. Seakan kamu tahu aku sedang berpikir keras mencari topik lain. Tiba-tiba aku tidak bisa berpikir. Tapi kamu terus tersenyum dan menatapku. Dan aku memutuskan berhenti berpikir. Membalas senyuman dan tatapanmu.

Sejenak kita berdua berkomunikasi tanpa kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s