Soal ‘Pulang’

Akhirnya aku tidak jadi ‘pulang’ ke Bandung (penggunaan kata ‘pulang’ sekarang menjadi begitu rancu, apakah saat aku pergi ke Bogor atau pergi Bandung). Ibuku berhasil membujuk aku untuk menjaga ayah yang tengah demam, meski yang dimaksud ‘menjaga’ pun aku tidak terlalu mengerti, karena toh ayah terlihat tidak perlu dijaga dan akhirnya kami sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan ibuku  semenjak pukul tujuh pagi telah berangkat untuk mencari data entah apa di Jakarta, kegiatan yang membuat aku sempat memutuskan untuk pulang subuh saja. Meski setidaknya masih sempat membuatkan segelas teh tarik untuk ku. Tapi toh akhirnya di “rumah” ini aku menjalani aktivitas solo saja: main piano, baca buku, menulis, nonton tv, dan ngelamun (atau bahasa puitisnya: merenung hehe). Apa bedanya dengan di kostan? Mungkin tv.

Rumah KPP-IPB Baranang Siang IV B-12 ini memang makin hari semakin kehilangan cahayanya. Mungkin karena semua anak tidak lagi tinggal di sana, sudah tersebar ke Dramaga, Bandung, Depok, dan Sukabumi. Bukankah anak itu sumber cahaya keluarga? Wajar saja rumah ini semakin redup.  Begitu juga dengan komplek ini, kehilangan kehidupannya. Padahal dulu hampir setiap sore kami bermain bola di atas jalanan aspal komplek, dengan kaki telanjang, bola plastik dan gawang dari sendal jepit. Nyebur ke got atau memanjat pagar orang untuk mengambil bola sudah menjadi kebiasaan. Atau pada akhir pekan bermain di lapangan PLN,sebuah lapangan bola yang berjarak sekitar 100m dari komplek melalui jalan tembus belakang pura yang penuh dengan anjing. Lalu terkadang ngadu  dengan “anak kampung” (kata yang belakangan saya sadari begitu diskriminatif), yaitu anak-anak yang tinggal di permukiman padat seberang komplek. Tapi kebiasaan itu mulai redup semenjak berkembang bisnis lapangan futsal  dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak dari permukiman seberang itu kini bermain bola, karena mereka tidak mampu membayar lapangan futsal yang begitu mahal ini). Dan toh lapangan PLN itu pun sekarang telah disulap menjadi perumahan.  Dan kalau pun masih ada, seluruh anak komplek blok-B ini telah hilang semua dengan kesibukan masing-masing.

Jadi apa lagi yang tersisa dari rumah ini? Bahkan sistem kamar pun telah dirombak. Tidak ada lagi kamar aku dan Abyan di sini. Ruangan itu telah menjadi ruangan multifungsi dengan tumpukan barang-barang dan dokumen-dokumen. Daun sirih yang merambat lebat di halaman belakang pun telah dibabat habis entah karena apa, dan sekarang hanya tembok gersang yang bisa dilihat di belakang. Oh mungkin pohon mangga di halaman. Tapi lihatlah, dia pun tengah sekarat. Seluruh batangnya kini dirambat oleh sejenis parasit, dan daunnya tidak lagi selebat dulu, yang sering kali menghalangi “lapangan bulutangkis” kami. Ah aku tahu, mungkin satu-satunya yang masih tersisa, yang masih menjadi cahaya dari rumah ini adalah piano cokelat yang suaranya begitu jelita ini. Betapa asyiknya bermain dengannya.  Mungkin cuma dia penghibur satu-satunya saat sendiri di rumah.

….

Sepertinya kata ‘pulang’ kini lebih tepat digunakan untuk menyebut perjalanan ke Kota Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s