Obrolan tentang meragukan arus

“Jadi, kau ingin melakukan perubahan?,“ tanyamu sambil mencari-cari korek api di saku.

“iya,” jawabku singkat, sambil mengamati kau yang masih mencari-cari korek sambil memaki karena tidak juga ditemukan.

“sebentar, aku beli korek dulu,” lalu pergi degan emosi ke warung samping tempat kami minum. Kulihat dia memang aneh, pria jenius dengan emosi yang sangat labil. Tapi entah mengapa, di saat orang lain sering dibuat jengkel karena emosinya yang sering mendadak meledak, aku sangat nyaman berkawan dengannya.    

“jadi..”

“Jadi aku akan melakukan perubahan.”

“ah, iya benar, perubahan. Bagaiamana caranya?” tanya kau, seperti mengetes niat ku.

“hmm.. begini. Aku akan meragukan segala tradisi yang kini ada, lalu memikirkannya kembali sacara jernih, tanpa pengaruh pemikiran-pemikiran lama yang  mendarah daging dalam tradisi. Lalu aku akan memikirkan apa yang sebenarnya diperlukan dalam organisasi kita, dan menganggapnya benar bila memang benar-benar telah jelas dan bernalar. Dengan begitu kita akan mendapatkan ‘kebenaran’ mengenai apa yang sebenarnya diperlukan.” jawabku, berusaha menjawab sejelas mungkin.

“hmm, menarik.” Kau diam sejenak, menghisap rokok di tangan kanan mu tanpa ekspresi. Aku menunggu lanjutan kata dari mu. “Jadi kau mengadaptasi metode yang digunakan oleh Descartes dalam mencari kebenaran.” Katamu.

“Bisa dibilang begitu, meski aku tidak sepenuhnya yakin. Setidaknya buku kecil Descartes yang kau berikan menjadi salah satu inspirasiku dalam merancang ini. Aku tertarik dengan metode berfikirnya”

“Jadi, kau akan meragukan segala tradisi yang ada?”

“Yap”

“Kau sudah sangat yakin dengan sikapmu itu?”

“Apa maskdumu?”

“Maksudku, apa kau yakin segala tradisi dan ide yang telah ada di organisasi kita perlu untuk diragukan?”

“Setidaknya itu yang ku dapat dari buku Descartes,” aku berusaha membela diri.

“Persetan dengan Descartes. Aku tanya pendapatmu!”. Suara mu sedikit meninggi, kau mulai menunjukkan kelabilan emosimu.

“hmm..” aku berfikir sejenak. Memasang ekspresi berfikir agar menunjukkan bahwa aku berusaha menjawab dengan sungguh-sungguh, dan sepertinya upayaku berhasil  menurunkan kembali tingkat emosi mu. “hmm, yah sepertinya aku akan melakukan hal itu. Karena bila tidak, kita tidak akan pernah melakukan perubahan yang sejati. Kita hanya menjadi pengikut arus tradisi saja, yang kebenarannya bahkan patut dipertanyakan. Maksudku, bukan berarti tradisi yang ada semuanya salah, dan aku percaya saat tradisi itu diciptakan, pasti terdapat suatu tujuan baiknya. Namun seiring waktu banyak tradisi tersebut yang kehilangan esensinya dan menjadi rutinitas belaka.”

“Tapi apa kau tahu konsekensi dari tindakan mu?” tanya mu serius sambil menyalakan puntung rokok yang kedua. Aku meminum habis susu hangat ku.

“Memang apa? Aku belum menemukan konsekuensi yang begitu perlu diberikan perhatian.”

“Apa kau tak sadar? Dengan meragukan dan berfikir ulang secara jernih, kau akan merobohkan bangunan tradisi yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun. Memang benar, banyak dari bangunan itu yang telah kaprah penggunaannya, atau hasil yang terbentuk tidak sesuai dengan desain awal. Tapi apa benar perlu dirobohkan? Dan pertanyaan mendasar yang paling penting sebelum kau benar-benar melakukan niatanmu, apakah kau sanggup membangunnya kembali setelah kau robohkan?

Aku tertegun sejenak. Aku tidak pernah berfikir sampai sana. “Aku tidak tahu,” jawabku jujur.

“Pikirkanlah. Aku suka dengan semangatmu, tapi ingatlah pada akhirnya kau akan berbentur dengan realita. Begini, yang perlu dilakukan adalah kau keluar dari pusaran atau arus tradisi itu. Lalu dari luar sana, nilailah dengan jernih. Maka kau akan tahu mana yang benar mana yang salah. Tapi ingat, bagaimana pun kau hidup dalam pusaran terseut. Kau akan kembali ke realita, ke dalam pusaran. Saat kau akan membenarkan berbagai kesalahan yang ada, maka pusaran atau arus tersebut tidak akan sertamerta mengikuti mu. Hadangan akan menimpa dirimu. Sekarang, tinggal masalah seberapa kuat kau menanggung berbagai hadangan tersebut. ”

“Seperti Nabi Muhammad SAW yang menyendiri di gua Hira, keluar dari pusaran kehidupan Mekkah dan menemukan kebenaran. Lantas saat beliau ingin meluruskan pusaran kehidupan yang salah itu, jutaan hadangan menimpanya, bahkan nyawanya terancam.” Ucapku dengan spontan.

“Entahlah, aku tidak tahu apa-apa tentang nabi mu. Tapi ilustrasimu cocok.” Jawabmu. Menghisap rokok mu, dan melanjutkan. “Oh, dan satu lagi, aku tidak pernah memaksamu untuk melawan semua arus, dan itu sangat tidak perlu. Saat kau keluar arus untuk berfikir jernih, kau akan menemukan bahwa akan ada sisi benar dari arus tersebut, atau bahkan bisa jadi kau selama ini sudah berada pada arus yang tepat sehingga kau tinggal mengikutinya saja.”

“Menarik. Dari mana kau mendapatkan pemikiran itu?”

“Entahlah, aku sedang mempelajari pemikiran Nietzche, baru sedikit memang. Tapi sejauh ini, itu pelajaran yang bisa kupetik.” Jawabmu sambil meminum kopi hitam di depanmu, atau mungkin lebih tepat disebut jagung hitam?

“Boleh aku pinjam bukunya?”

“Tidak! Aku masih membaca. Dan setelah buku teori sosial ku kau hilangkan, sekarnag aku akan berfikir dua kali untuk meinjamkan buku pada mu,” sembari melempar puntung rokokmu ke selokan.

“haha baik-baik, nanti buku itu akan aku ganti,” jawabku enteng.

“ya terserah kau,” jawabmu sambil menyalakan puntung rokok ketiga. “ngomong-ngomong, bagaimana kabar teman mu itu?”

“Oh, jadi sekarang kita akan membicarakan wanita? Hehe. Bagaimana pendapat Niezche tentang ini?” tanyaku sambil tersenyum mengejek.

“Berisik kau!” jawabmu dengan sedikit membentak. Kau menjadi salah tingkah dan kami pun tertawa. Dan entah mengapa, kau menjadi begitu bodoh bila sudah berbicara tentang topik ini. Jenius yang aneh.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

Satu pemikiran pada “Obrolan tentang meragukan arus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s