Soal Melamun

Entah kenapa hari ini kepala saya terasa sangat berat, otot-otot terasa kejang, dan tubuh terasa akan demam namun tidak kunjung demam. Meriang? Mungkin itu kata yang paling tepat, meski saya tidak tahu juga apa yang sedang terjadi. Diperparah dengan kondisi perut yang tidak menentu. Masalah perut ini diawali oleh insiden kemarin dini hari, dimana tiba-tiba saya terbangun dengan kondisi sangat mual, hingga akhirnya mengeluarkan seluruh gulai otak yang saya makan malam sebelumnya. Mungkin saya tertular ayah saya, tapi sakitnya tidak disertai permasalahan pencernaan. Namun setidaknya, kemarin saya mendapatkan perhatian dengan porsi cukup besar dari bunda saya. Perhatian, sesuatu yang sering saya harapkan namun selalu terhalang gengsi untuk memintanya.

Kondisi ini membuat saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk membaca dan melamun, karena adalah ini dua aktivitas paling minim energi. Melamun, bengong, merenung, atau berimajinasi, atau entah apa padanan kata yang tepat . Kegiatan aneh ini entah mengapa sering saya lakukan. Tapi saat melamun inilah ide-ide brilian sering muncul. Saat kecil dulu sebelum saya mengenal nikmatnya membaca, waktu senggang saya hampir selalu saya gunakan untuk melamun sendiri, mengimajinasikan berbagai hal, dan disertai oleh gerakan tangan dan bunyi-bunyian. Sekarang salah satu kebiasaan saya di rumah adalah duduk bangku teras, membaca, diselingi oleh lamunan, tentu tidak ada lagi gerakan tangan dan bunyi-bunyi khayalan bocah. Dan sepertinya kebiasaan ini juga dilakukan oleh ayah saya. Bedanya, dia ditemani oleh hangatnya asap rokok. Terkadang saya berharap ayah saya cepat menyelesaikan ‘aktivitas teras’ nya agar saya bisa melakukan kebiasaan saya. Karena sangat tidak nyaman melakukan kebiasaan itu seecara bersamaan. Dan sepertinya kami berdua sepaham soal itu.

Tapi anehnya, entah mengapa, beberapa teman-teman saya kini sering mengaitkan kegiatan melamun saya dengan rasa sedih. Sembari mengaitkannya dengan peristiwa perpisahan. Apa melamun selalu berkorelasi dengan rasa sedih? Saya tidak tahu dari mana logika ini muncul, toh melamun dapat dilakukan dalam kondisi hati apa saja. Saya rasa mereka hanya terlalu banyak nonton drama korea.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s