BERDIKARI dan Domestic Resource Mobilization

Ternyata sudah lebih dari dua bulan saya tidak menyentuh blog ini. Dan tulisan terakhir saya masih seputar percintaan haha. Tapi tidak apa-apa, urusan cinta juga penting. Tapi kali ini saya ingin bercerita tentang hal lain. Jadi ceritanya beberapa hari kemarin saya disibukkan oleh pembuatan essay untuk sebuah seleksi konferensi, temanya mengenai sustainable development. Meski saya pribadi tidak puas dengan essay tersebut, tapi hikmahnya saya menemukan konsep baru yang saya pikir cukup menarik: Domestic Resource Mobilization (selanjutnya kita singkat DRM aja). Pernah dengar?

Bagaimana dengan BERDIKARI? Saya rasa kita semua pernah mendengar tentang kalimat terkenal bung Karno tersebut, Berdiri Di Atas Kaki Sendiri. Lalu apa hubungannya dengan DRM? Ini yang membuat saya tertarik. Saat saya membaca jurnal mengani DMR ini, pikiran saya secara ototmatis mengarah kepada suatu kesimpulan: ini sangat mirip dengan ide BERDIKARI. Tapi tunggu dulu, saya tidak bermaksud mengatakan si pembuat DMR itu plagiat. Tapi yang menarik adalah, DMR ini dapat dikatakan seperti perumusan ilmiah dari konsep BERDIKARI.

DRM ini, seperti namanya, adalah konsep dimana pembangunan yang dilakukan memanfaatkan sumber (resoure) dari dalam (domestik). Jadi pembangunan yang dilakukan tidak bergantung pada sumber-sumber eksternal seperti Foreign Direct Investment, pemasukan dari hasil ekspor, bantuan dan asisteni teknis dari luar negeri, dan dana pinjaman luar negeri. Sebaliknya, sumber yang digunakan adalah sumber-sumber domestik seperti simpanan rumah tangga, profit perusahaan domestik, pajak, dan pendapatan publik lainnya. 

DRM dianggap dapat menjadi solusi penggunaan dana eksternal yang ternyata sering kali merugikan negara-negara berkembang. Sumber-sumber eksternal gagal melakukan pembangunan yang berkelanjutan karena penggunaan dana tersebut seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan dan juga dengan konteks histori dan geografi dari negara yang menerima sumber tersebut. Misal untuk FDI, dana investasi hanya akan masuk pada sektor-sektor yang menarik bagi investor, sedangkan sebagian besar negara-negara berkembang sebagian besar merupakan negara yang mengandalkan sektor agraris, sektor yang kurang diminati oleh investor. Alhasil akhirnya negara tersebut terpaksa melakukan pembangunan di sektor lain meski sebenarnya kebutuhan utamanya adalah dalam sektor agraris. Contoh lainnya adalah kota-kota yang dibangun dari dana perusahaan minyak. Akhirnya pembangunaan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dari perusahaan minyak tersebut, bukan masyarakat setempat. Contoh tersebut dapat dilihat di Kota Tembagapura Papua. Contoh lainnya adalah dalam pinjaman luar negeri yang seringkali dibarengi dengan syarat-syarat tertentu. Kasus riil nya dapat kita lihat saat Indonesia mendapatkan dana bantuan IMF saat krisis 1998. Saat itu IMF memberikan pinjaman luar negeri dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh Indonesia, syarat-syarat yang dianggap solusi bagi perekonomian Indonesia, meski banyak dari syarat tersebut yang kontroversial dan dianggap tidak sesuai dengan konteks Indonesia. Juga seperti dana-dana pinjaman dari Jepang untuk pembangunan jalan di Jakarta, meski sebetulnya yang dibutuhkan oleh Jakarta adalah pembangunana transportasi massal. Dan kalo kita sedikit suudzon, penambahan jalan akan berakibat pada kenyamanan menggunakan kendaraan pribadi, sehingga akan menaikkan permintaan mobil dan motor, dan saya rasa kita semua tahu dari mana kita membeli kendaraan kita. Pemerintah pun, termasuk pemerintahan yang demokratis sekalipun, akhirnya tidak punya pilihan lain karena pilihan yang tersedia adalah membangun dengan mengikuti berbagai syarat lain atau tidak melakukan pembangunan. Bahkan dalam suatau penelitian dinyatakan bahwa ketergantungan terhadap dana ekternal ini akan memicu korupsi dan penyimpangan hukum.

Oleh karena itu, dengan DRM pembangunan yang dilakukan dapat sesuai dengan kebutuhan dan konteks di negara terkait. Kesesuaian dengan konteks negara tersebut sangat penting karena sebutulnya tidak ada pakem ideal dalam melakuakn pembangunan. Semua negara memiliki ciri khas masing-masing sehingga memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda pula. Dengan DRM Pemerintah dan masyarakat menjadi memiliki kuasa atas pilihan pembangunan yang dilakukan. Selain itu tidak akan ada ketergantungan terhadap keadaan yang terjadi di luar. Dengan kata lain permbangunan yang dilakukan dapat lebih berkelanjutan.

Tapi masalahnya adalah, bukankah sumber domestik yang tersedia tidak mencukupi untuk melakukan pembangunan? Ternyata tidak juga, karena ternyata banyak trade off  antara penggunaan sumber eksternal dan domestik. Misal untuk memicu perdagangan luar negeri dilakuakn pengurangan tarif, lalu rangka mengundang FDI maka dilakukan pengurangan pajak bagi korporasi. Sehingga jika kita ingin mengurangi ketergantungan dari FDI misalkan, maka pajak dapat dinaikkan sehingga pendapatan dari pajak ini dapat menutupi kerugian dari pengurangan FDI namun negara mendapat keuntungan-keuntungan  DRM seperti yang dijelaskan di paragraf di atas.

Itu sedikit penjelasan mengenai DRM , dan saya tidak bermaksud membahasnya secara mendetail. Tapi dari sini dapat kita lihat betapa konsep DRM ini sangat sesuai dengan ide BERDIKARI. Ide BERDIKARI ternyata sangat visioner melampaui zaman. Betapa hebatnya founding fathers kita yang telah mencetuskan ide ini jauh sebelum muncul konsep DRM dalam diskusi ilmiah. Kita seharusnya berbangga bangsa ini didirikan oleh manusia-manusia yang luar biasa. Sudah saatnya kita lebih menghargai lagi warisan pemikiran-pemikiran dari para pendiri bangsa dan dari berbagai kearifan yang ada di Indonesia, jangan hanya silau dengan berbagai konsep-konsep barat semata. Dan yang lebih penting lagi, di umur NKRI yang telah menyentuh angka 68 ini, sudah saatnya Indonesia dapat BEDIKARI, Berdiri Di Atas Kaki Sendiri !

Muhammad Azka Gulsyan

Jumat, 10 Januari 2014

pukul 00.27 WIB

*sebagian besar informasi mengenai DRM diambil dari jurnal karya Roy Culpeper and Aniket Bhushan, 2008.

Satu pemikiran pada “BERDIKARI dan Domestic Resource Mobilization

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s