Kembali

Halo.

Sudah begitu lama rasanya aku tidak menulis, tercatat terakhir aku meng-update blog ini adalah 9 Desember 2014. Dan hari ini adalah 26 Februari 2016, yang berarti satu tahun lebih telah terlewat. Karena nya, telah begitu banyak momen yang terlewati yang tidak sempat diabadikan dalam tulisan-tulisan.

Aku tidak mau mencari alasan, tetapi kalau boleh jujur awal berhentinya aku menulis di sini adalah saat aku menadi ketua Himpunan (Himpunan Mahasiswa Planologi ITB), karena ternyata aku tidak begitu pandai membagi pikiran dan waktu. Begitu disayangkan, karena itulah sebananrya periode di mana aku menghadapi berbagai macam tantangan dan permasalahan hidup: perasaan, pertemanan, konflik, permusuhan, intrik, pengkhianatan, pencapaian, percintaan, dan persahabatan. Menjadi pemimpin tidak semudah yang aku bayangkan sebelum nya. Inilah periode di mana aku merasa begitu jaya, tetapi kemudian begitu terpuruk. Aku berani mengklaim bahwa aku, sebagai pemimpin, berhasil menggapai pencapaian yang besar pada satu sisi, tetapi juga kegagalan yang begitu dalam dan mendalam pada sisi lainnya; membuat pencapaian yang ada terasa hambar. Hingga masih bersisa luka-luka entah pada aku sendiri ataupun orang-orang lainnya sampai saat ini. (Aku berjanji suatu saat akan menulis khusus prihal masa satu tahun aku menjadi ketua himpunan ini, yang aku namai “periode pawiyatan* dalam kehidupan ku; mungkin satu tahun lagi, setelah semua luka-luka yang ada dapat terlupakan).

Segala gejolak pada masa tersebut membuat akhirnya aku “masuk ke goa”, mengasingkan diri untuk sejenak berfikir lebih jernih, merenung, mencoba memaknai yang telah terjadi; ini adalah “perdiode jentung”**. Pada masa ini, aku sedikit mengasingkan diri dari teman-teman, lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, atau hanya dengan orang-orang terdekat. Kebetulan, masa ini bertepatan dengan waktu ku menyelesaikan tugas akhir, di mana memang dibutuhkan banyak waktu sendiri bergelumat dengan penelitian. Aku pun bertanya-tanya, mengapa semua masalah itu dapat terjadi? Mengapa aku tidak menyadari lebih awal, memperbaiki diri, dan menyelesaikannya? Apa yang salah dengan semua ini? Terus berlanjut, berdebat dalam diri, hingga akhirnya aku menyadari untuk lebih mengenal diri sendiri, apa yang kumiliki dan tak kumiliki, dan memahami apa saja yang harus segera aku ubah dan perbaiki, sampai mengetahui di mana seharusnya aku berada dan berperan, hingga akhirnya dapat menjawab pertanyaan “ke mana aku harus melangkah setelah ini?”

Tentu aku tidak akan menceritakan semua hasil dari “goa” itu kepada kalian, tetapi jawaban atas pertanyaan terakhir adalah yang terpenting, karena itu adalah modal untuk melanjutkan melangkahkan kaki dalam jalan kehidupan ini. Dan akhirnya aku telah mengetahui apa yang betul-betul aku citakan: menjadi intelektual publik.

. . . . . . . .

Tunggu, mari mundur sesaat, kita melewatkan sesuatu yang penting. Maaf, aku sedikit berbohong tadi, karena masa jentung ku sesungguhnya tidak aku lewatkan benar-benar sendiri. Banyak waktu pada masa itu yang sebenanrya aku lewatkan berdua, oleh orang yang tadi aku sebut “teman hidup” itu.

Yah, ini soal cinta. Tetapi bukan lagi cinta emosional yang akhinya menjadi bodoh. Karena ternyata cinta lebih kuat saat disandingkan dengan rasionalitas pikiran, kesesuaian nilai dan norma, sehingga dapat menemukan orang yang benar-benar menjadi “teman hidup” dalam semua ruang kehidupan. Karena terbukti, dialah yang benar-benar menjadi ‘teman’ sepenuhnya selama masa pawiyatan yang penuh masalah dan konflik itu. Hingga akhirnya hubungannya dengan ku menyentuh ranah emosi. Menjadi gejolak yang berhasil menembus saringan kriteria-kriteria norma dan pikiran, yang telah ku pasang erat sejak dengan yang lalu, di saat banyak kisah lain yang terhenti pada saringan ini. Tetapi tidak aku dengan nya, kisah kami masih terus berlanjut hingga hari ini, dan telah ditekadkan untuk tidak terhenti.

. . . . . . . .

Singkat cerita, masa jentung terus berlangsung. Hingga saat ini mungkin aku belum sepenuhnya keluar dari goa. Aku masih merasa perlu banyak merenung dan belajar, untuk benar-benar siap bertarung. Tetapi perlahan-lahan, aku mulai terus bertarung, meski dalam sembunyi. Mungkin aku akan terus begitu, hingga waktu nya tepat, aku akan muncul kembali, insya Allah.

Dan salah satu hasil “pertarungan” ku adalah tugas akhir ku. Dengan sepenuh kemampuan dan tenaga karena ingin menjadi seorang intelektual, aku mengerjakan tugas akhir sebaik yang aku bisa. Pada masa itu aku tidak terlalu menceburkan diri dalam kemahasiswaan, karena ingin berfokus sepenuhnya pada urusan ini. Benar, berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian, berletih-letih mengerakan tugas akhir berbuah hasil yang memuaskan. Bukan bermaksud sombong, tapi puji Tuhan, tugas akhir ku berhasil mendapatkan nilai nyaris sempurna dari para penguji, “sayangnya nilai kamu jadi tidak sempurna karena kamu banyak kesahalan ketik”, ujar ibu pembimbing ku, masih ku ingat. Saat ia berkata begitu, aku masih sedikit was-was dengan nilai akhir ku. “Jadi nilai nya apa bu?”. “Yang paling bagus apa?”, ibu pembimbing ku balik bertanya. “A”, jawab ku polos. “Ya pokoknya kamu dapat yang paling bagus itu”, dengan seyum bangga bercampur senang, tanpa pernah menyebut angka nilai secara eksplisit. Dengan sedikit canggung, aku pun berterimakasih setulus yang aku bisa ke pada ibu pembimbing ku, karena aku benar-benar bamerasa banyak mendapatkan ilmu selama fase tugas akhir bersama nya.

Akhirnya, berakhirlah waktu ku menjadi mahasiswa pada 17 Oktober 2015. Sungguh terasa cepat, bahkan terkadang aku berfikir terlalu cepat. Tetapi hidup harus terus berlanjut, dan kita harus terus bertambah kuat dan dewasa. Dengan gelar sarjana di pundak, ternyata rasa senang wisuda begitu cepat beganti menjadi beban. Lantas aku memulai langkah di “dunia nyata” dengan menjadi asisten proyek penelitian mengenai kelembagaan Jabodetabek dan kota kreatif di Bandung, semenjak awal masa sarjana selama tiga bulan lama nya.

Setelahnya aku ingin berfokus untuk melanjutkan sekolah, karena untuk menjdi seorang intelektual publik tentu ilmu ku saat ini masih sangat-sangat dangkal. Tujuan ku tertuju kepada Prancis, negeri para filsud dan pemikir yang begitu keluar dari rigiditas ilmu pengetahuan. Tetapi jalur nasib berakata lain. Ibu ku tiba-tiba mendapatkan tanggung jawab untuk bekerja di Tokyo, yang akhirnya memintaku untuk menemani nya. Tentu ini suatu kebetulan yang sangat, ibu ku berdinas ke Tokyo persis saat aku baru saja lulus dan akan melanjutkan sekolah. Dan hingga saat ini aku sedang menjalani proses penerimaan, aku memohon doa kepada kalian semua.

Di samping itu, salah satu impian ku adalah dapat menjadi penulis di media massa yang dapat mencerahkan masayrakat luas. Itu salah satu bentuk dari menjadi intelektual publik. Karenaya, di masa menunggu ini, aku habiskan waktu ku untuk terus membaca, menulis, membaca, menulis, membaca, dan menulis. Termasuk langkah meng-update blog ini . Dan hingga saat ini, aku telah empat kali mencoba mengirim ke media massa, dan gagal sebanyak empat kali. Benar, aku belum berhasil menembus media massa. Tetapi untuk mewujudkan salah satu impian ku tersebut, aku berdisiplin diri dengan terus menghasilkan satu tulisan setiap minggunya untuk dikirm ke media massa, atau bila tidak memungkinkan, setidaknya di taruh di blog ini . Menulis, menulis dan menulis; disertai membaca, membaca, dan membaca. Karena hanya dengan kerja keras kita akan bisa berhasil, bukan? (oh iya, tulisa-tulisan yang gagal kemarin mungkin nanti akan aku post di sini juga)

. . . . . . .

Terlepas dari semua yang telah aku ceritakan di atas, sesungguhnya ada satu hal yang benar-benar ingin aku capai, tetapi masih sangat sangat jauh dari kondisi ku saat ini: mencapai tingkat spiritualits tertinggi, setinggi yang aku bisa. Karena aku yakin, semua yang dikejar di dunia ini pada akhirnya akan terasa hampa saja. Karena mungkin memang ini fana. Karenanya aku ingin benar-benar mendapatkan sesuatu yang hakiki, yang aku yakin hanya Tuhan yang memilikinya. Sejujurnya aku masih sangat gelap dalam hal ini. Tetapi aku perlahan dan tertatih, berusaha terus melangkah ke arah sana. Saat ini aku sudah mencoba memulai dengan berguru kepada seorang Syekh, yang sebenarnya adalah guru dari orang tua ku dan aku telah mengikuti nya semenjak kecil. Tetapi kini, dengan kesadaran sebagai manusia dewasa, aku memutuskan oleh diriku sendiri untuk berguru kepada beliau. Dan mencoba menguatkan diri untuk menjadi salik, meski hingga detik ini, menjadi salik yang benar pun masih berlum tercapai.

. . . . . . .

Tulisan ini hanyalah semacam kata sambutan atas kembali nya aku ke sini. Menceritkan secara sekilas aku yang hilang dari sini lebih dari setahun ini. Entah siapa yang akan membaca. Tetapi siapapun itu, aku harap kita dapat bersahabat, meski tidak saling kenal atau saling mengetahui, melalui tulisan-tulisan ini. Karena kamu akan memasuki pikiran, dan mungkin perasaan ku, di sini.

Sampai berjumpa lagi.

 

*Pawiyatan = pendidikan (Sansekerta). Jujur saja ini hasil googling :p Aku sedang tertarik dengan sejarah Majapahit sehingga ingin saja menggunakan istilah-istilah seperti itu.

**Jentung = perenungan (Sansekerta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s